oleh

Buleleng Festival Memperkenalkan Puncak Karya Seniman Bali Utara

Baliinspirasi.com — Buleleng Festival (Bulfest) memasuki penyelenggaraan yang ketiga pada tahun 2015 ini. Selama tiga kali penyelenggaraan, Bulfest tampaknya masih menunjukkan ciri kebaliutarannya, terutama di bidang seni, meski di pada sejumlah acara masih terkesan menonjolkan hiburan semata.

Pada pembukaan Bulfest tahun 2013 diisi dengan penampilan sekitar seribu penari Teruna Jaya. Semua tahu, tari Teruna Jaya adalah tarian khas Buleleng yang memberi warna bagi sejarah perkembangan seni tari di Bali. Tari Teruna Jaya adalah tari kekebyaran yang gerakannya dinamis dan atraktif. Tari yang diciptakan Pan Wandres bersama I Gede Manik ini menggambarkan gerak lincah pemuda yang penuh pesona. Tarian ini ditata sangat dinamis dan ekspresif, sesuai dengan karakteristik gamelan gong kebyar. Munculnya Tari Terunajaya ini menjadi inspirasi kemunculan tari-tari kekebyaran lain seperti Tari Margapati dan Tari Panji Semirang yang diciptakan oleh I Nyoman Kaler pada tahun 1942.

Pada Bulfest kedua tahun 2013 ini ditonjolkan Tari Nelayan. Tari ini juga merupakan ikon seni budaya Buleleng yang tak kalah populer dengan Tari Teruna Jaya. Tarian ini muncul sekitar tahun 1960-an yang diciptakan I Ketut Merdana dari Desa Kedis Kecamatan Busungbiu. Tari ini menggambarkan kehidupan para nelayan di laut, tarian ini menampilkan gerak-gerak seperti halnya seorang nelayan, seperti mendayung dan melempar jala. Selain itu juga digambarkan dengan jenaka betapa menjadi nelayan itu bukan hal yang mudah, seperti gambaran nelayan tertusuk ikan dan ditolong oleh teman-temannya. Tari nelayan ini terkenal hingga ke Bali Selatan. Tari yang menggambarkan kegiatan manusia dalam bekerja menyambung hidup ini kemudian menginspirasi munculnya tari-tari sejenis di Bali.

Pada Bulfest tahun 2015 ini yang digelar mulai 4 Agustus hingga 8 Agutus ditampilan sebanyak 20 sekaa gong kebyar. Gong kebyar adalah puncak penciptaan karawitan Bali yang sangat penting. Tabuh ini lahir di Buleleng sekitar tahun 1913 hingga tahun 1915. Gong kebyar itu pertama kali menghebohkan jagat karawitan di Bali adalah ketika dilakukan gong kebyar mebarung di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, sekitar tahun 1915. Sebelum tahun 1915, gong kebyar diperkirakan sudah berkembang, terutama di Desa Bungkulan Kecamatan Sawan.

Penonjolan ikon seni Buleleng pada pembukaan tentu membuat Bulfest menjadi sebuah ajang yang tetap menjaga iklim penciptaan seni di Buleleng. Dengan dimunculkannya karya-karya seni monumental yang terlahir di Buleleng, diharapkan Bulfest bisa memberi inspirasi bagi seniman Bali Utara untuk terus menciptakan karya seni baru.

Ketua Panitia Bulfest sekaligus Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng Gede Suyasa mengatakan, pembukaan Bulfest dengan menampilkan karya-karya seni Buleleng yang ditampilkan secara massal merupakan satu upaya untuk memperkenalkan karya seni yang tercipta dari tangan-tangan terampil seniman Bali Utara. Dalam pembukaan Buleleng Festival 2015, puluhan sekaa gong itu tampil di sepanjang Jalan Ngurah Rai. Puluhan sekaa gong tampil berderet di sepanjang jalan utama di Kota Singaraja itu. “Kurang lebih mereka akan tampil di Jalan Ngurah Rai sepanjang kurang lebih 300 meter. Masing-masing sekaa gong kami tempatkan pada sebuah panggung khusus. Satu panggung panjangnya sampai 15 meter,” jelasnya.

Seluruh sekaa gong juga harus menyiapkan penari yang membawakan Tari Teruna Jaya serta Tari Wiranjaya. Tari Teruna Jaya mewakili tari kebanggan masyarakat Buleleng Timur, sementara Tari Wiranjaya mewakili ikon tari masyarakat Buleleng Barat. (MAO)

Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed