oleh

GUBERNUR WAYAN KOSTER BERHASIL PERJUANGKAN PEMBANGUNAN DERMAGA DI NUSA PENIDA

Nusa Penida, Klungkung – BALIINSPIRASI.COM

Gubernur Bali Wayan Koster kembali mencetak sejarah baru bagi Bali, kali ini terkait pembangunan infrastuktur di kecamatan Nusa Penida kabupaten Klungkung. Pulau yang eksotis dan terkenal akan suasana spiritualnya dengan keberadaan Pura Dalem Ped, serta dilengkapi oleh pesona alam yang menjadi daya tarik wisata ini sering dikeluhkan akibat kurang memadainya fasilitas pelabuhan yang nota bena sebagai destinasi favorit dikunjungi turis mancanegara.

Pada rahina suci Purnama sasih Karo hari ini, Coma Umanis Tolu (Senin, 3/8/2020), Gubernur Wayan Koster berhasil mengajak Menteri Perhubungan (Menhub) RI, Budi Karya Sumadi di tengah pandemi COVID-19 untuk melaksanakan Ground Breaking Pelabuhan Nusa Penida di Sampalan dan Pelabuhan Nusa Ceningan di Bias Munjul yang kedepannya akan menghubungkan langsung ke Pelabuhan Sanur di Matahari Terbit atau dikenal dengan sebutan Pelabuhan Segi Tiga Emas di Bali.

Tidak cukup sampai disana, selanjutnya Gubernur Koster juga ingin menciptakan sejarah selanjutnya yaitu membangkitkan kembali seni arsitektur khas Nusa Penida, yang selama ini tenggelam dan tidak diketahui keberadaannya. Sehingga pembangunan Pelabuhan Nusa Penida di Sampalan dan Pelabuhan Nusa Ceningan di Bias Munjul yang mengambil tema Alam Semesta Segara – Wukir, Tradisi Pulau Guru – Nusa Tiga itu akan memenuhi interior ruangan di kedua pelabuhan tersebut.

“Kita akan tampilkan kearifan lokal yang dimiliki Nusa Penida pada arsitektur bangunannya,  serta interior ruangannya. Kemudian ukiran kuno Nusa Penida yang terdapat di Pura Batu Medawu, Pura Puncak Mundi, Pura Sahab, Pura Prajapati Sampalan, Pura Puseh Lembongan juga akan ditampilkan di bangunan pelabuhan tersebut. Karena Nusa Penida memiliki Kain Cepuk dan Kain Rangrang, maka desain pelabuhan di Sampalan dan Bias Munjul itu juga akan memiliki motif kain Cepuk dan kain Rangrang yang dikombinasikan dengan ukiran kuno tersebut,” ujar mantan Anggota DPR-RI 3 Periode ini seraya berharap ukiran ini dilestarikan keberadaannya. Menurutnya, alasan memasukan konten kearifan lokal pada gaya bangunan di kedua pelabuhan tersebut adalah mengacu dan berpegangan teguh pada Perda No.4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali yang resmi diberlakukan pada, Kamis (16/7) lalu.

(SWA/BI)

Komentar

News Feed