oleh

Hotel Agar Selalu Mengedepankan Etika, Estetika dan Logika Dalam Menerapkan Protokol Kesehatan Menuju New Normal

           Saat ini industri perhotelan tengah sibuk menyiapakan diri menuju new normal , sebuah fenomena yang menjadi wacana dimana-mana. Tidak mungkin juga ternyata hal ini membuat kebingungan bagi sebagian orang dan masyarakat, tak terkecuali pekerja perhotelan atau yang dikenal dengan sebutan hotelier. Protokol kesehatan yang menjadi pertimbangan utama dalam menampilkan produk dan layanan di industri perhotelan perlu dikaji lebih detail dengan adaptasi yang tidak menyimpang namun juga harus tetap memperhatikan etika, estetika dan logika.

Demikian diungkapkan oleh Ketut Swabawa, praktisi dan akademisi perhotelan pada Rabu, 3 Juni 2020 ketika dihubungi setelah acara pelatihan dalam jaringan yang diselenggarakan oleh Indonesia Tourism E-Learning (ITEL) Jakarta, yaitu sebuah lembaga penyelenggara pelatihan berbasis aplikasi. Swabawa yang juga Wakil Ketua DPD IHGMA Bali menjelaskan bahwa keahlian seorang hotelier dari segi cognitive dan interpersonal skills saat ini diuji dalam dinamika new normal. “Kita harus kembali ingatkan lagi bahwa hotel adalah bagian dari pariwisata, sebuah industri yang mengedepankan kenyamanan, keindahan dan pengalaman yang mengesankan. Sehingga protokol kesehatan yang diadaptasikan dalam SOP di hotel jangan sampai mengekang kreatifitas untuk menampilkan produk hotel menjadi tampak atau berkesan seperti rumah sakit. Aspek etika dalam pelayanan, estetika dalam tampilan produk dan logika dalam menempatkan atau mengadaptasikan sesuatu harus tetap memprioritaskan kenyamanan dan keindahan sehingga tamu yang menginap tetap mendapatkan pengalaman yang mengesankan. Saya yakin rekan-rekan GM hotel juga dapat membuat standar agar jangan terlalu berlebihan dalam menerapkan protokol kesehatan, namun ya tetap harus memastikan standar yang memang dibutuhkan” kata Swabawa yang juga berprofesi sebagai konsultan manajemen perhotelan ini.

  

Pelatihan bidang housekeeping ini diikuti juga oleh peserta yang berasal dari luar department tersebut. Dengan judul “New Normal Housekeeeping Operations Post COVID-19” , Swabawa menyampaikan bahwa materi disiapkan untuk memenuhi kebutuhan rekan-rekan hotelier, dimana disadari bahwa aspek kebersihan berlaku di seluruh divisi dalam dunia perhotelan. Pemaparan materi dimulai dari isu terkini dan dampak, strategi hingga best practices menuju reopening hotel nantinya. Ia sangat setuju bahwa rencana pembukaan hotel sesuai jadwal yang telah dikeluarkan pemerintah nantinya harus menghadirkan suatu produk yang dapat meyakinkan calon turis bahwa hotel tersebut sangat concern terhadap sanitasi, kesehatan dan keamanan. Ia juga menambahkan bahwa standar baru yang dibuat menuju kondisi new normal jangan hanya sebatas promosi atau di tahap awal saja, namun diterapkan secara konsisten secara menyeluruh dan terus menerus. “Virus ini kan kasat mata, bisa berada dimana saja dan menular kepada siapa saja, asal ada carrier-nya. Dan status sanitasi itu harus berkelanjutan, tidak bisa berhenti sejenak dan dilanjutkan kembali beberapa saat setelah itu. Makanya prioritas kebersihan dan sanitasi ini benar-benar menjadi trend baru kedepannya dalam mengunggulkan produk dibanding kompetitor lainnya” tambah Swabawa.

Pelatihan dalam jaringan yang dilaksanakan secara nasional ini mendapat sambutan positif dari pekerja perhotelan seluruh Indonesia. Selain hotelier, peserta juga dari kalangan pengusaha, akademisi dan mahasiswa. Menurut Panca Rudolf Sarungu, founder ITEL Online Education, pihaknya menyelenggarakan pelatihan ini dalam berbagai bidang dalam industri pariwisata. “Tidak hanya di bidang perhotelan, kita juga selenggarakan di bidang diving, guiding, wirausaha , layanan restoran dan sebagainya. Hanya memang peserta hari ini yang terbanyak mungkin karena isu kebersihan yang menjadi perhatian utama kita kedepannya ini membutuhkan suatu skill yang lebih adaptif pada perubahan perilaku konsumen. Kami juga melihat ada beberapa hotel yang sampai pasang large screen untuk mengikuti pelatihan ini sehingga bisa sekalian memberikan training khusus untuk seluruh karyawannya di hotel.” Jelas pria yang akrab dipanggil Panca dan juga Ketua Umum MASATA (Masyarakat Sadar Wisata) Indonesia dan sangat dekat dengan para praktisi pariwisata di Bali ini. Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan ITEL adalah sebagai media dalam mendukung program pemerintah pusat dalam rangka mengakeselerasi peningkatan kualitas SDM agar semakin kompeten dan mampu bersaing serta menghadapi segala dinamika perkembangan industri dan dunia internasional.

Panca R. Sarungu, founder ITEL Online Education

Pada akhir sesi pelatihan, moderator acara Windy Agustian menyampaikan ringkasan materi seperti : mind set karyawan hotel harus kuat tentang pemahaman arus perubahan menuju new normal, penerapan protokol kesehatan harus mampu memberikan jaminan perlindungan untuk karyawan, wistawan atau pengunjung , pemasok serta pihak lain yang terlibat dalam operasional hotel, serta tahapan menuju reopening harus terstruktur dan sistematis. “Kami juga berikan  soal latihan dan soal ujian kepada peserta pelatihan tadi yang disediakan oleh Pelatih dalam hal ini Pak Swabawa, yang mendapat skor minimum 70 akan mendapat sertifikat dari kami. Demikian komitmen kami dalam program pelatihan online dari ITEL ini; meningkatkan skill kompetensi peserta dengan parameter pencapaian yang terukur” pungkas Windy yang juga Kepala Program Pelatihan pada ITEL Online Education.

Komentar

News Feed