oleh

INOVASI BARU PENDIDIKAN PARIWISATA DALAM PENGENALAN INDUSTRI DI ERA BARU

Denpasar, BALIINSPIRASI.COM (03/08)

Kita semua setuju bahwa pariwisata adalah sebuah industri yang fragile sekaligus resilience. Pesona industri ini merupakan magnet yang mampu menarik sektor industri lainnya untuk bergerak maju bersama. Di tengah perjalanannya, terkadang isu negative dapat langsung menurunkan reputasi destinasi di marketplace. Sebaliknya, terkadang juga selalu mampu keluar dari masalah-masalah yang tidak jarang menghampiri dari sisi faktor external. Semuanya tidak lepas dari peranan SDM yang dilatih sedemikian rupa mencakup penanganan produk, penerapan layanan serta sistem tata kelola sehingga faktor inovasi dan kreativitas mendorong insan pariwisata senantiasa hadir dengan terobosan yang relevan dengan perkembangan jaman.

Rektor IPBI : Dr. I Made Sudjana, SE.,MM.,CHT.,CHA (03/08)

Pandemi COVID-19 juga tidak mengecualikan dimensi pendidikan kepariwisataan dalam menyiapkan SDM yang unggul dan terampil dengan kompetensi sesuai kebutuhan industri. Hotel serta jenis usaha wisata lainnya belum bisa menampung program pemagangan mahasiswa yang menjadi syarat mutlak bagi lembaga pendidikan vokasi yang mengedepankan unsur keterampilan dan harus dilatih melalui praktek langsung di industri. Menjawab tantangan tersebut, Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPBI) bersama DPD IHGMA Bali mengadakan rapat koordinasi pagi hari tadi bertepatan dengan rahina suci Purnama sasih Karo (03/08/2020) secara online terkait alternatif solusi yang dapat diterapkan kedepannya.¬† Dalam sambutan pembukaannya, rektor IPBI, Dr. I Made Sudjana, SE.,MM.,CHT.,CHA, menyampaikan komitmen institusi yang dipimpinnya untuk tetap memperhatikan kualitas lulusan baik dari segi kompetensi, daya saing, prestasi dan penyerapan tenaga kerja di industri. “Kami tetap ingin menjadikan Bali ini bukan hanya terkenal karena popularitas destinasinya, namun juga sebagai pencetak SDM kepariwisataan terbaik. Kita memiliki banyak kampus kepariwisataan di Bali, dengan persamaan persepsi saya yakin harapan itu akan terwujud. Bali harus bisa menjadi barometer pariwisata di segala hal dan ini butuh komitmen bersama seluruh stakeholder. Rapat koordinasi IPBI bersama IHGMA Bali hari ini saya harapkan mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran yang inovatif dan strategis dalam mencari solusi pemagangan mahasiswa di era adaptasi kebiasaan baru ini. Kita fasilitasi bersama antara kebutuhan kampus dan juga industri, karena Akademis dan Bisnis sudah jelas merupakan bagian dari pentahelix pembangunan pariwisata nasional Indonesia, selain Pemerintah – Komunitas/Masyarakat dan Media, yang tidak dapat dipisahkan. Harus tetap bersinergi dan solid dalam membangun kepariwisataan Indonesia” ungkap pria yang juga pengurus pada DPP HILDIKTIPARI (Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia) ini.

Ketua DPD IHGMA Bali : I Nyoman Astama, SE.,MM.,CHA (03/08)

Sambutan berikutnya disampaikan oleh I Nyoman Astama, SE.,MM.,CHA dengan point utama penekanan pada komitmen asosiasi yang dipimpinnya pada dunia pendidikan. Bahwa DPD IHGMA Bali yang telah menjalin kerjasama dengan STPBI (kini bernama IPBI) sejak asosiasi ini berdiri resmi pada 2016 lalu hingga kini tetap memberikan dukungan penuh atas program-program yang relevan. “Sampai saat ini ada 12 member IHGMA Bali yang tergabung dalam Dosen Expert untuk mengampu mata kuliah, selain mengisi guest lecture dalam program Industrial Day dan tentunya menerima pemagangan mahasiswa di industri secara berkala. Hari ini, sesuai topik meeting kita akan membahas alternative solution di tengah ketatnya penerapan protokol kesehatan di segala bidang terkait pengenalan industri atau lingkungan kerja bagi mahasiswa sebagai bagian dari kurikulum perkuliahan. Kami pasti dukung semaksimal mungkin seperti program-program yang telah berjalan antara IPBI dan IHGMA sebelumnya.” ungkap Astama yang baru saja menerima penugasannya sebagai Honorary Consul of Republic of Ukraine in Indonesia, Bali office.

Peserta rapat dari IPBI dan IHGMA Bali (03/08)

Diskusi antar 2 lembaga ini berjalan selama lebih dari 2 jam dan menghasilkan suatu rumusan konsep baru dalam hal pengenalan kerja industri. “Kami sepakati bahwa program pengenalan kerja di industri akan tetap mentaati dan menerapkan protokol kesehatan termasuk pembatasan jumlah orang dan physical distancing sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Komitmen kami tetap sesuai dengan kebijakan pemerintah, baik pusat dan daerah yakni menciptakan produktifitas yang aman COVID-19. Konsep baru ini kami sebut HOLISTIC Program, detailnya sudah disepakati oleh rekan-rekan hotel dan memang sifatnya simbiosis mutualisme antara pihak kampus dan hotel.” kata Ketut Swabawa¬† yang ditugaskan dari kampus IPBI untuk memaparkan konsep baru dimaksud ketika dihubungi via telepon oleh baliinspirasi.com usai rapat.

Rapat tersebut dihadiri juga oleh para pejabat IPBI yakni wakil rektor, kaprodi, kepala laboratorium, kepala biro serta Direktur Sekolah Perhotelan Bali (SPB) bersama jajaran. Sementara dari IHGMA selain ketua DPD juga dihadiri wakil ketua umum DPP IHGMA, beberapa pengurus serta para GM member IHGMA Bali. Tahapan pertama dari HOLISTIC Program akan menyertakan 210 mahasiswa dari 4 jurusan program basic level yang akan dimulai pada awal September 2020. (red.sb/BI)

Komentar

News Feed