oleh

Ivanka Angelina Dheyanita Prasada ; Kiat Mahasiswa di Masa Pandemi COVID-19

DENPASAR, BALIINSPIRASI.COM

Pandemi COVID-19 mengharuskan kegiatan rutin dalam tatanan kehidupan masyarakat harus dibatasi, sejak dikeluarkannya maklumat Kapolri bernomor MAK/2/III/2020 pada 19 Maret 2020 lalu tentang pelarangan pertemuan besar serta aktifitas yang mengumpulkan orang lebih dari 25 orang. Seperti halnya bekerja dari rumah (work from home), belajar dari rumah (study from home), beribadah di rumah (pray at home) serta berdiam di rumah (stay at home). Dan kini himbauan tersebut telah dicabut per tanggal 25 Juni 2020 dengan surat telegram bernomor STR/364/VI/OPS.2/2020 dan ditandatangani oleh Asisten Operasional Kapolri Irjen (Pol) Herry Rudolf Nahak.

Belum banyak yang mengangkat topik aktifitas generasi muda yang dapat dijadikan motivasi dan juga sekaligus sebagai sumber inspirasi di tengah masa sulit selama ini. Tujuannya adalah agar prestasi dan juga kreatifitas generasi muda tidak terhambat dalam rangka mencapai cita-citanya di masa depan.

Baliinspirasi.com berinisiatif untuk mewawancarai seorang mahasiswi di Bali yang memiliki kreatifitas cukup tinggi dan beberapa prestasi yang lumayan unik yaitu bidang sejarah dan sastra. Gadis muda berusia 20 tahun ini mampu menjalani Study from Home (SFH) dengan lebih bermanfaat dan menemukan hal-hal baru yang dapat mendukung study dan juga menambah wawasan serta pengetahuan umumnya dalam mencapai cita-cita kelak.

Namanya Ivanka Angelina Dheyanita Prasada, mahasisiwi pada Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA) Singaraja. Dheya, sapaan akrabnya, mengambil jurusan  Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, Program Studi Pendidikan Sejarah. Berbicara dengan gadis periang ini sangat mengasikkan karena kemampuannya untuk menarasikan suatu hal membuat kita semakin mudah untuk mencerna dan memahaminya. Kesibukannya di kampus selain kuliah adalah menjabat sebagai Koordinator Bidang II yang menaungi Pengembangan Minat dan Bakat pada Himpunan Mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial. Dua jam wawancara tidak terasa dan banyak yang disampaikan oleh Dheya yang kini sedang duduk di semester 4 ini. Berikut ini adalah kutipan wawancara Baliinpirasi.com (BI) bersama Dheya (DY) yang dilakukan pada Sabtu, 27 Juni 2020 di kediamannya yang berlokasi di Denpasar :

BI         :           Apakah yang diharapkan setelah Anda lulus dari program studi ini?

DY       :           Hal terbesar yang saya harapkan setelah lulus dari Program Studi Pendidikan Sejarah Undiksha adalah mendapatkan Beasiswa untuk melanjutkan pendidikan jenjang S2 ke Perguruan Tinggi yang ada di luar negeri, tapi seandainya tidak langsung melanjutkan pendidikan S2 setelah lulus, Plan B saya adalah untuk menjadi Guru Sejarah, tentunya Guru Sejarah yang menyenangkan dan membuktikan kepada murid-murid saya bahwa Sejarah itu tidak membosankan.

BI         :           Apakah kegiatan yang Anda lakukan selain pendidikan akademis sebelum terjadi pandemi COVID-19?

DY       :           Selain pendidikan akademis, sebelum terjadinya Pandemi Covid-19 saya sering mengikuti berbagai kegiatan organisasi karena saya tergabung sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan di kampus saya dan menjabat sebagai Koordinator Bidang II yang menaungi Pengembangan Minat dan Bakat.  Saya juga beberapa kali mengikuti perlombaan, contohnya seperti lomba essay dan debat.

BI         :           Apakah yang berbeda dalam proses belajar sebelum dan selama  pandemi?

DY       :           Cukup banyak perbedaan yang saya rasakan.  Beberapa diantaranya yaitu: saya tidak bisa bertatap muka secara langsung dengan teman-teman dan dosen saya, project untuk observasi lapangan dibatalkan, belajar jadi hanya dilakukan di depan gadget.

BI         :           Bagaimana proses belajar yang Anda ikuti selama menjalani SFH?

DY       :           Karena harus melakukan Study from Home tentunya pembelajaran pun dilakukan dengan daring. Dosen membagikan materi melalui Whatsapp Group atau aplikasi online classroom lainnya seperti Schoology dan Google Classroom. Presentasi yang biasanya di lakukan melalui tatap muka langsung di depan kelas pun diubah dalam bentuk presentasi daring dengan cara kelompok penyaji mengirimkan file makalah, power point, dan voice note lalu mahasiswa yang belum mendapat giliran presentasi diberikan waktu untuk memahami materi, setelah itu bertanya kepada penyaji apabila ada yang tidak dimengerti dan Dosen memberikan koreksi dan evaluasi. Jika dilihat sekilas, sebenarnya sama dengan pembelajaran di kelas tetapi berbeda media dan tempat penyampaiannya serta ‘rasa’ yang diberikan.

BI         :           Berapa lama Anda  sudah menjalankan SFH?

DY       :           Kurang lebih sudah hampir 4 bulan ya, terhitung dari bulan Maret hingga saat ini bulan Juni.

BI         :           Apakah dampak yang Anda rasakan dan alami dengan menjalankan SFH?

DY       :           Jika ditanya dampak tentunya ada dampak positif dan negatifnya. Dampak positifnya adalah lebih banyak memiliki waktu untuk mengerjakan tugas karena berada di rumah saja. Kemudian lebih mudah membagi waktu untuk mengerjakan tugas kuliah, tugas di organisasi, dan waktu untuk bersantai. Berkat Study from Home pula jadi memiliki waktu untuk mengikuti seminar-seminar online. Lalu, untuk dampak negatifnya yang pertama tidak bisa bertemu teman dan dosen secara langsung. Sebagai calon pendidik saya percaya bahwa sehebat dan secanggih apapun Artificial Intelligence yang diciptakan dalam dunia pendidikan, tidak akan bisa menggantikan proses pembelajaran tatap muka antara pengajar dan peserta didiknya karena ada ‘rasa’ yang ditimbulkan pada saat pertemuan tatap muka secara langsung yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan teknologi. Kedua, lambat laun saya berada di titik jenuh karena sudah berbulan-bulan belajar hanya melalui gadget dan mengerjakan tugas, jadi seperti repetisi. Ketiga, susah signal. Saya pribadi mungkin tidak terlalu merasakan hal ini tetapi saya melihat teman-teman saya yang di rumahnya kesulitan mendapatkan signal apalagi akses internet untuk melakukan kuliah online. Jadi terkadang ketika perkuliahan online dilaksanakan, ada beberapa teman-teman yang tidak bisa ikut terkendala signal. Untunglah dosen-dosen saya sangat memaklumi hal itu dan tidak pernah memberikan tugas yang memberatkan mahasiswa. 

Melihat kondisi pandemic yang merambah era kesejagatan yang sangat mendadak dan massive tanpa dapat dibendung ini, akhirnya memang mengharuskan manusia untuk menjadi lebih kreatif dalam melakukan aktifitas dan inovasi. Apa yang disampaikan oleh Dheya di atas adalah sebuah refleksi bahwa permasalahan selalu memiliki pilihan solusinya namun belum banyak yang menemukan hal tersebut. Hal di atas, seperti metode pembelajaran daring dengan masalah signal-nya tentunya banyak dialami oleh para pelajar dan mahasiswa. Ini semakin menarik untuk dibahas, maka Balinspirasi.com mencoba menggali lebih dalam lagi untuk mendapatkan insight menarik dari putri pertama pasangan Bapak I Nyoman Astama, SE.,MM.,CHA dan Ibu  Yuni Ratna Sari Putra  ini.

 

BI         :           Bagaimana  Anda mengatasi kejenuhan selama menjalani SFH?

DY   :          Saya biasanya mengatasi kejenuhan dengan mengikuti seminar, mendengarkan lagu, menonton film, menonton video di youtube, bernyanyi, bermain game, membaca buku, take a selfie, memasak, serta melakukan haircare dan skincare.

BI         :           Bagaimana menurut Anda proses belajar ke depan setelah pemerintah  menyatakan membuka kembali aktivitas masyarakat dengan cara new normal?

DY       :           Tentunya harus disesuaikan dengan protokol kesehatan ya, seandainya

sekolah ataupun kampus-kampus dibuka kembali dan melakukan perkuliahan tatap muka seperti biasa kita tetap harus menggunakan masker, tidak berkerumun, dan selalu membawa hand sanitizer.

BI         :           Apakah saran Anda kepada teman-teman dalam menghadapi pandemic ini?

DY       :           Jangan stress. Jangan jadikan tugas-tugas yang diberikan guru atau dosen kalian sebagai beban. Kerjakan saja pelan-pelan dan belajar untuk tidak mengerjakan tugas H-1. Jika kalian bosan, lakukanlah kegiatan yang kalian sukai atau makan lah makanan yang kalian sukai, it’ll increase your mood, trust me. Kalian boleh istirahat sejenak tapi ingat jangan berhenti, tetaplah bergerak walau tidak secepat orang lain, tidak apa-apa. Ingat jaga kesehatan yaa.

BI         :           Pertanyaan terakhir nih, apa harapan Anda sebagai generasi muda ke depannya ?

DY       :           Apa ya… banyak sih hahaa… Tapi sederhananya gini, sebelum pandemic ini tentunya orang-orang sudah memiliki harapan dan cita-cita yang pasti dan meyakinkan. Nah sekarang ini kita semua menuju ke arah tatanan hidup era baru dengan segala perubahan yang dinamis. Sebagai generasi muda yang dilahirkan di Bali dengan keunikan dan kekayaan alam budaya dan potensi yang kita miliki di sini, saya ingin tetap mengupayakan agar selalu dapat bermanfaat bagi banyak orang melalui eskalasi kemampuan diri secara terus menerus sehingga jika banyak orang berpikir demikian maka akan dapat mengakselerasi pencapaian masyarakat yang damai, bahagia dan sejahtera. Astungkara… 

Demikian hasil wawancara Baliinspirasi.com dengan Dheya tentang aktifitas generasi muda di Bali khususnya kalangan mahasiswa dalam menjalani masa Study from Home (SFH). Semoga dapat menjadi inspirasi untuk meningkatkan semangat generasi muda dalam menghadapi tatanan era baru kehidupan masyarakat kedepannya. Berikut silakan disimak biodata Dheya. (swa/BI)

 

BIODATA LENGKAP

Nama Lengkap                       :           Ivanka Angelina Dheyanita Prasada

Nama Panggilan                     :           Dheya

Tempat / Tanggal Lahir       :           Denpasar, 30 Mei 2000

Pendidikan                              :           Mahasiswa Program S1 Semester IV, Prodi Pendidikan Sejarah,             Fakultas Hukum  dan Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.

Hobby                                      :           Menulis, mendengarkan musik, menyanyi, menonton film dan travelling

Prestasi                                   :

  • Indonesia Book of Records 2014 sebagai “Penulis Muda Cerpen yang Kreatif dan Inovatif, yang Telah Membukukan Karyanya Pada Usia Muda 12 Tahun”
  • Juara II Lomba Cerdas Tangkas Kesejarahan, Universitas Pendidikan Ganesha, Tahun 2016
  • Juara Harapan I Lomba Karya Tulis Ilmiah Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha, Tahun 2016
  • Juara III Lomba Cerdas Tangkas Kesejarahan, Universitas Pendidikan Ganesha, Tahun 2017
  • Juara II, Lomba Pidato Bahasa Indonesia, Universitas Pendidikan Nasional, Tahun 2017
  • Peserta dan Semi Finalis Lomba Debat Hukum tingkat SMA/SMK/MA/MAK se-derajat, Universitas Warmadewa, Tahun 2017
  • Penulis Terbaik Puisi Berjudul “Budak Cinta” dan dibubukan dalam antologi Puisi “Potret Kehidupan” yang diselenggarakan oleh lombanulis.com Tahun 2020
  • Finalis Lomba Essay Nasional, Universitas Negeri Padang, Tahun 2020
  • Dan berbagai prestasi lainya yang tidak bisa dituliskan satu persatu.

Komentar

News Feed