oleh

“KemBALI ke BALI” ; OBAT RINDU TURIS DOMESTIK PADA BALI

Jakarta, BALIINPIRASI.COM (18/7/2020)

Seiring kebijakan pemerintah dalam menerapkan adaptasi tatanan kehidupan era baru, industri pariwisata tampaknya telah memulai ‘memanaskan mesin’ dengan langkah-langkah yang dapat ditempuh sebagai kesiapan menyongsong pulihnya perekenomian wilayah. Di Bali kita perhatikan pelaku usaha seperti destinasi wisata, hotel, restoran, spa, taman rekreasi dan lainnya telah mulai menyiapkan agenda reaktivasi usaha baik dengan pelatihan karyawan, general cleaning, proses verifikasi kesiapan era baru dan bahkan beberapa tempat sudah tampak beroperasi secara bertahap untuk menerima pengunjung. Sebagaimana kita ketahui bahwa kebijakan pemerintah provinsi Bali dengan meluncurkan 3 tahapan pembukaan destinasi yang dimulai dengan wisata turis lokal pada 9 Juli lalu, terlihat beberapa destinasi wisata seperti Bedugul, Uluwatu, Pantai Pandawa dan lainnya telah mulai dikunjungi wisatawan dari warga Bali sendiri. Tentunya tetap dengan protokol kesehatan.

Host : Yopi Rismayadi (Head of Digital Business Dept. OBAJA TOUR AND TRAVEL Jakarta)

Hal berbeda dilakukan salah satu tour operator di Jakarta, OBAJA Tour and Travel yang telah 22 tahun beroperasi dalam jasa perjalanan wisata, memiliki program bernama “NGOBRAS ; NGOBRol ASik bareng Obaja Tour” yaitu sebuah acara Live Insta melalui aplikasi media sosial setiap minggunya. Pada agenda Sabtu (18/7) acara yang dipandu Yopi Rismayadi (Head of Digital Business) menghadirkan topik “kemBALI ke BALI” dengan bintang tamu tokoh muda perhotelan dari Bali, I Ketut Swabawa, CHA. Acara yang diselenggarakan selama 1 jam mulai 15:00 WIB ini membahas informasi terkini tentang Bali mulai kesiapan, regulasi hingga hal-hal yang harus diperhatikan bagi turis yang akan berkunjung ke Bali. “Saya cinta Bali, dan saya banyak sekali menerima pertanyaan dari klien kami tentang kapan mulai bisa ke Bali, bagaimana standar terkait protokol kesehatan di sana, aman gak sih ke Bali, bagaimana dengan transportasi, sewa mobil dan lainnya. Dan banyak sekali pertanyaan lainnya, termasuk wisata kuliner yang sangat diminati warga Jakarta ketika berlibur di Bali” demikian ungkapan awal pria yang akrab disapa Yopi ketika menyapa nara sumbernya. Dalam sambungan telepon, Yopi menjelaskan bahwa ia mengenal Swabawa sudah cukup lama dalam kerjasama bisnis dengan hotel-hotel yang pernah dipimpin Swabawa sebelumnya sejak 2006 lalu. “Dan Pak  Swa saya perhatikan selama pandemi ini banyak sekali membawakan webinar baik di Bali dan luar Bali, wah ini kayaknya pas deh Beliau sebagai praktisi langsung yang paham tentang kondisi industri saya undang interview di acara saya” kata Yopi menjelaskan alasan tentang nara sumber nya.

Swabawa menjelaskan bahwa Bali sebagai destinasi utama di Indonesia memandang perlu dan sangat urgent dalam menyiapkan industri ini sebaik-baiknya demi reputasi atau citra pariwisata  Indonesia. “Kami di Bali sangat kompak dalam upaya persiapan destinasi. Pentahelix pariwisata bekerja saling dukung dalam semangat yang sama sesuai program pemerintah Provinsi Bali yaitu menuju tatanan era baru masyarakat Bali yang produktif dan aman COVID-19. Pelatihan secara mandiri oleh berbagai asosiasi yang ada di Bali sangat sering diadakan dengan berbagai topik strategis untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan industri menuju reaktivasi destinasi sesuai protokol kesehatan. Pemerintah mewajibkan seluruh tempat usaha harus memiliki sertifikat verifikasi kesiapan tempat usaha sesuai panduan yang diedarkan oleh pemerintah. Jadi semua dimensi diperhatikan dan ditangani, karena kita tidak ingin ada hal-hal yang menjadi ancaman secara internal, misalnya faktor resiko yang bisa saja muncul transmisi lokal atau juga faktor eksternal berupa imported case dari pengunjung luar Bali.” kata pria yang juga dosen pada Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional ini.

I Ketut Swabawa, CHA ketika live dari Swahita Ubud, Bali (18/7)

Menjawab pertanyaan tentang standar baru di hotel dan tempat wisata di Bali, Swabawa memaparkan bahwa edaran pemerintah untuk pelaksanaan verifikasi kesiapan tempat usaha ternyata disambut sangat baik oleh pelaku usaha. Verifikasi tersebut mengecek standar protokol kesehatan yang wajib diterapkan di industri. “Jadi bukan hanya sekedar menyediakan masker dan hand sanitizer, contohnya hotel juga harus membuat standar baru misalnya untuk penjemputan airport, upaya penerapan cardless and cashless payment juga contactless services. Pembatasan jumlah tamu di tempat umum seperti restoran, kolam renang dan lobby. Bahkan standar rekayasa mitigasi untuk tindakan antisipasi juga diwajibkan bagi pelaku usaha” kata Swabawa.

Ada komentar pemirsa yang menanyakan kapan mereka bisa ke Bali, sekali lagi Swabawa menjelaskan tahapan pembukaan destinasi sesuai kebijakan pemprov Bali. “Pemprov Bali menjalankan peran Government sebagai bagian Pentahelix sangat tepat dan kami dari industri sangat menghormati segala kebijakan yang diterbitkan. Pada 5 Juli lalu Bapak Gubernur Wayan Koster telah mengumumkan jadwal reaktivasi destinasi menjadi 3 tahapan yaitu untuk turis lokal internal Bali mulai 9 Juli, turis domestik pada 31 Juli dan turis mancanegara direncanakan pada 11 September 2020. Saya rasa ini kebijakan yang sangat tepat, selain kita perlu proses adaptasi, reaktivasi ini butuh monitoring dan evaluasi bertahap pula untuk memperhatikan proses dan dampaknya. Rekan di industri juga bisa lebih tenang menyiapkan reopening properti-nya, karena kita tahu biaya pengoperasioan kembali ini kan biayanya tidak sedikit, jadi bisa bertahap pula yang dioperasikan, misal hotel punya 100 rooms, tahap awal dibuka 30-40 rooms dulu demikian selanjutnya ditingkatkan secara bertahap. Kami di Bali siapkan segalanya semaksimal mungkin, dan komitmen seluruh stakeholder sangat tinggi dalam mewujudkan situasi yang produktif dan aman COVID-19.” ungkap Swabawa yang live dari kawasan Ubud, Gianyar ini.

Kunjungan wisatawan lokal di kawasan Uluwatu pada 13/7/2020 (Koleksi foto : Pengelola DTW Kawasan Luar Pura Luhur Uluwatu)

Swabawa mengundang wisatawan domestik untuk datang kembali ke Bali. Bali memiliki destinasi dengan berbagai suguhan dan kenyamanan yang menjadi daya tarik wisatawan.  Dalam mempromosikan Bali, Swabawa yang juga Wakil Ketua DPD IHGMA Bali menyampaikan, “Yang terpenting juga untuk sebuah destinasi terkait COVID-19, di Bali banyak terdapat tempat wisata yang open air dan menyatu dengan alam. Area pantai yang luas dan mudah dijangkau dari tempat menginap dimanapun di Bali. Sirkulasi udara segar dan sinar matahari yang baik akan mendukung kenyamanan wisatawan untuk berlibur, tentunya semua pihak termasuk wisatawan juga wajib mengupayakan kebersihan dan menerapkan protokol kesehatan bagi dirinya. Banyak tawaran yang affordable saat ini dari hotel, villa, taman rekreasi , aktifitas wisata dan sebagainya. Kami menunggu kunjungan sahabat Obaja Indonesia ke Bali setelah 31 Juli nanti”

Terkait persyaratan khusus yang dikenakan bagi wisatawan domestik, Swabawa menjawab bahwa sejak beberapa hari lalu pemerintah provinsi Bali telah menerapkan sistem lapor diri bagi pengunjung luar Bali secara online sebelum tiba di Bali. Disediakan formulir via link https://lapordiri.baliprov.go.id dan calon pengunjung wajib mengisinya dengan lengkap serta mengunggah beberapa dokumen termasuk surat keterangan sehat dan negatif hasil tes Swab/Rapid. “Jika semua pertanyaan telah diisi dengan benar, mereka akan mendapatkan QR Code yang nantinya ditunjukkan pada terminal kedatangan di Bali. Awalnya ini memang dianggap sedikit merepotkan, namun dengan tujuan kesehatan dan keselamatan bersama, akhirnya hal ini dianggap sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam mencegah penyebaran virus korona di Bali” kata Swabawa.  (RED/BI)

News Feed