oleh

Kompetensi Muatan Lokal Bagi Tenaga Kerja Untuk Pariwisata Budaya

Penulis : K. Swabawa

Kegelisahan masyarakat Bali khususnya pelaku pariwisata atas isu wisata halal di Bali lewat sudah. Dalam kunjungan perdana ke daerah setelah dilantik sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Ketua Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, dengan tegas Dr. H. Sandiaga Salahudin Uno di Bali menyampaikan  bahwa konsep pembangunan pariwisata di Bali sudah final dengan Pariwisata Budaya berlandaskan kearifan lokal yang dimiliki Bali. Hal serupa disampaikannya pula dalam webinar KAHMIPRENEUR (03/01/2021) bahwa Gubernur Bali diserahkan sepenuhnya untuk memprogramkan pariwisata budaya yang berkualitas dan berkelanjutan, sesuai karakter yang menjadi keunikan Bali.

Tanpa menjelaskan lagi definisi budaya dan berbudaya sesuai teori dan keilmuannya, secara sederhana tatanan kehidupan berbudaya sangat mutlak ditampilkan dalam konsep pariwisata budaya yang diusung Bali. Tugas pemerintah provinsi Bali di tahun 2021 ini terkait pembangunan SDM pariwisata adalah meneliti dan mengecek kembali standar kompetensi tenaga kerja pariwisata yang selama ini mengacu pada standar kerangka kerja nasional Indonesia (SKNNI). Di sinilah harus dimulai memasukkan bobot kriteria penilaian kompetensi muatan lokal di bidang kebudayaan, tradisi dan kearifan lokal Bali selain pemahaman tentang destinasi di Bali yang kaya akan sejarah dan nilai-nilai kuktural.

Materi Uji Kompetensi (MUK) terdiri dari 3 dimensi penilaian : 1) kompetensi teknis; 2) kompetensi umum ; dan 3) kompetensi pendukung/tambahan. Elemen kebudayaan dan kearifan lokal dapat dimasukkan sebagai kompetensi pendukung bagi setiap tenaga kerja pariwisata. Contoh di dunia industri misalnya seorang waiter wajib menguasai sequence of services in restaurant (sebagai kompetensi teknis-nya), selama ini kompetensi pendukungnya baru sekitar teknik berkomunikasi (verbal, oral, foreign languange, dsb), sistem administrasi (membuat laporan kerja, mengakses data di komputer, dsb) dan lainnya. Jika kompetensi tentang pemahaman budaya dan kearifan lokal dimasukkan di sini, alangkah bagusnya ketika turis yang sedang makan di restoran bertanya tentang : mengapa orang Bali isi bunga di telinganya? bagaimana sejarah Subak di Bali yang mendunia itu? mengapa banyak penjor saat Galungan? Itu semua dapat dijelaskan dengan baik dan benar sesuai sumber informasi yang tepat. Saatnya kini Bali memiliki skema materi uji kompetensi bidang kebudayaan dan kearifan lokal bagi pekerja pariwisata, sekaligus sebagai filter atau seleksi bahwa bekerja di Bali wajib paham tentang budaya Bali. Sehingga akan menciptakan rasa bangga dan hormat pada tanah Bali beserta industri yang memberi kehidupan ini.

Hal lain juga yang menyebabkan kompetensi bidang pemahaman kebudayaan dan kearifan lokal ini semakin penting adalah masih belum maksimalnya penerapan di industri terkait Peraturan Gubernur  yang mengatur tentang pelestarian budaya Bali. Contohnya masih ada usaha pariwisata yang tidak menggunakan pakaian adat Bali di hari Kamis, Purnama, Tilem dan hari raya Hindu (Pergub No. 79/tahun 2018). Demikian juga penyelenggaraan kegiatan resmi tidak menyertakan tulisan aksara Bali pada judul kegiatan di backdrop atau media yang dipakai (Pergub No. 80/tahun 2018).

Banyak hal tentunya dapat diterapkan untuk menguatkan konsep pariwisata budaya sesuai kearifan lokal Bali dalam tatanan operasional usaha pariwisata sehari-hari. Misalnya usaha akomodasi menyediakan minimal 1 buku tentang budaya Bali di kamar tamu, bisa juga dalam bentuk digital yang dapat diakses melalui e-book atau siaran video sebagai fitur di TV channel atau di website. Hal lain misalnya mewajibkan bar restoran menyediakan minuman lokal Bali baik alkohol maupun herbal yang disertai deskripsi sesuai tradisi di Bali dalam menu nya, memasang lukisan nuansa budaya dan tradisi Bali di fasilitas umum kawasan pariwisata, dan sebagainya.

Tulisan ini bukan ingin menggurui para pembaca, namun hanya untuk mengajak bahwa jangan sampai ketika ada wacana konsep pariwisata yang bertentangan dengan budaya Bali, banyak orang yang teriak dan menyalahkan para pihak tertentu sementara secara internal kita sendiri tidak menunjukkan secara maksimal upaya kita dalam melestarikan budaya Bali dalam kehidupan bisnis.

Semoga momentum kebangkitan pariwisata Bali pasca pandemi COVID-19 ini merupakan proses akselerasi perwujudan pariwisata budaya yang konkrit, berkualitas dan berkelanjutan berbasis masyarakat.

“… tourism destinations carry with them the seeds of their own destruction. The trick is to manage tourism destinations so that they do not self-destruct.” (Prof. Richard W. Butler, 1980)

Bahwa destinasi pariwisata membawa serta benih kehancuran mereka sendiri. Maka strateginya adalah harus mengelola destinasi pariwisata agar tidak sampai merusak dirinya sendiri.

Dan pariwisata Bali hanya bisa diselamatkan oleh budaya Bali sendiri.

Terima kasih.

Denpasar, 05/01/2021

(Penulis adalah pelaku, pengajar dan konsultan di bidang kepariwisataan)

Komentar

News Feed