oleh

MARI BERWISATA DI BALI, GULIRKAN EKONOMI BALI !

MARI BERWISATA DI BALI, GULIRKAN EKONOMI BALI !
Upaya Menggerakkan Perekonomian Masyarakat Menyongsong Reaktivasi Bali, 9 Juli 2020

I Nyoman Astama, SE.,MM.,CHA

Penulis : I NYOMAN ASTAMA, SE.,MM.,CHA
Ketua Indonesian Hotel General Manager Association
(
DPD IHGMA Bali)

Menjelang diaktifkannya kegiatan perekonomian Bali mulai 9 Juli 2020 oleh Pemerintah Provinsi Bali, memberi harapan mulai digerakkannya kegiatan perekonomian masyarakat. Ini yang sangat ditunggu oleh masyarakat karena sudah hampir 4 bulan tidak beraktivitas dan tidak ada penghasilan.

Ini tentu menjadi situasi yang sangat sulit kalau dihadapkan antara dua pilihan kesehatan masyarakat atau perekonomian masyarakat.  Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus corona tidak bisa hilang dari muka bumi, maka hidup berdampingan dan beradaptasi dengan melakukan protokol kesehatan yang sudah diputuskan, semestinya dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Sumber: Kemenparekraf – Kunjungan wisman bulanan ke Bali, 2008-2020

Keberadaan bangsa Indonesia, termasuk Bali, dengan struktur demografi yang berbeda, latar belakang sosio-kultural yang beragam dan keterbatasan dukungan dana pemerintah yang tersedia, tidak memungkinkan penerapan lockdown seperti yang dilakukan oleh negara-negara lain. Karena itu muncul beberapa penerapan yang menyesuaikan kondisi di daerah seperti PSBB (pembatasan sosial berskaka besar), PKM (pembatasan kegiatan masyarakat), karantina wilayah, dan lain-lain sesuai kondisi dan kebutuhan daerah bersangkutan.

Sebagai konsekwensi logis, masyarakat diminta melakukan social distancing atau menerapkan jarak sosial, seperti:

  • Berdiam di rumah
  • Sembahyang di rumah
  • Bekerja dari rumah
  • Belajar di rumah
  • Berbelanja dari rumah

Sumber: Kemenparekraf – Kontribusi pariwisata Bali terhadap PDB, 2010-2019

Tentu tidak ada yang bisa menjawab, apabila setelah wilayah ditutup dan masyarakat dilarang berkegiatan di luar rumah, dan kurva RO (reproduction number) atau kemampuan penularan dan penyebaran virus atau bakteri sudah rendah di bawah 1 terjadi, apakah akan menjamin tidak adanya kasus baru atau gelombang COVID berikutnya?

Karena tidak adanya jaminan tersebut, sampai vaksin untuk virus SARS-COV-2 ditemukan, maka sebagai kata kuncinya masyarakat secara pribadi atau individu harus disiplin menerapkan kebiasaan hidup baru (new normal) yaitu:

  • Mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, kalau tidak memungkinkan pakai hand sanitizer
  • Memakai masker wajah atau penutup wajah
  • Menjaga jarak aman, minimal 1 meter dengan orang lain
  • Menjauhi kerumunan
  • Menjaga kesehatan tubuh
  • Mengkonsumsi makanan bergizi dan bernutrisi seimbang
  • Mengarahkan ke siku atau pakai tisu sekali pakai bila bersin dan batuk
  • Memeriksakan diri ke pusat kesehatan masyarakat atau rumah sakit bila demam/suhu tubuh tinggi, batuk dan pilek berkepanjangan

Karena itu rencana pemerintah melakukan reaktivasi kegiatan perekonomian masyarakat di Bali pada 9 Juli 2020, harus diikuti oleh perilaku masyarakat agar disiplin menerapkan kata kunci protokol kesehatan new normal di atas.

Sumber : BPS – Wisman Nasional dan Bali, 2010-2020

Dari beberapa lansiran media massa kita mengetahui bahwa rencana reaktivasi kegiatan pariwisata Bali dilakukan bertahap dan terbatas dengan jadwal:

  • 9 Juli 2020: berwisata di internal Bali bagi masyarakat lokal Bali
  • 31 Juli 2020: wisatawan antarpulau untuk perjalanan domestik mulai diaktivasi dengan mengikuti prosedur protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah daerah baik melalui pelabuhan laut maupun udara
  • 11 September 2020: apabila semua sesuai rencana dan situasi memungkinkan, wisatawan internasional untuk tamu mancanegara mulai diaktifkan. Tentu untuk wisatawan mancanegara sangat tergantung dari beberapa hal, seperti:
  • negara sumber wisatawan mengijinkan warga negaranya berkunjung ke Indonesia. Untuk antisipasi hal ini pemerintah diharapkan mempercepat kesepakatan travel bubble dengan negara yang memiliki kasus COVID menurun dan mengijinkan warganya bepergian antara kedua negara atau lebih walaupun masih dalam tujuan terbatas
  • dibukanya kembali fasilitas visa untuk warga asing yang mau berkunjung ke Indonesia
  • adanya penerbangan komersial regular dari negara sumber wisatawan ke Bali

Dari kewenangan pemerintah tentunya memastikan kesiapan bidang usaha untuk menyongsong reaktivasi kegiatan pariwisata dengan melakukan verifikasi kesiapan pariwisata di masing-masing daerah dengan mengikuti prosedur operasional standar (S.O.P.) yang ditetapkan kepala daerah mengacu pada protokol kesehatan yang telah direkomendasi baik oleh otoritas gugus tugas COVID-19 nasional maupun Badan Kesehatan Dunia dan World Travel & Tourism Council.

Untuk mengurangi penyebaran virus corona, selain melakukan pengetesan secara masif juga melaksanakan tracing terhadap orang yang pernah kontak dengan pasien COVID-19.

Setelah kegiatan pariwisata diaktivasi, yang tidak kalah penting adalah konsistensi dan monitoring pelaksanaan protokol C.H.S. (Cleanliness, Health dan Safety) yang ditetapkan pemerintah untuk diimplementasikan oleh perusahaan, karyawan, pelanggan dan masyarakat.

 

Komentar

News Feed