oleh

MEMAKNAI TUMPEK LANDEP PADA TATANAN ADAPTASI KEHIDUPAN ERA BARU

BALIINSPIRASI.COM (18/7/2020)

Bali yang kaya akan tradisi dari para leluhur merupakan suatu bentuk identitas yang kuat dalam menampilkan karakteristik daerah serta penduduknya. Apalagi ketika dunia dihadapkan pada perubahan peradaban manusia yang dalam beberapa dekada belakangan ini tampak semakin cepat dan selalu dinamis.

Tertarik untuk membahas hal tersebut, wartawan Baliinspirasi.com menghubungi beberapa praktisi di industri pariwisata Bali mengingat pulau ini merupakan destinasi utama bagi pariwisata nasional dan Bali sendiri telah menempatkan pariwisata sebagai leading sector dalam pergerakan ekonomi daerah. Bertepatan dengan hari suci Tumpek Landep hari ini, penting bagi kita semua utamanya para generasi muda agar mampu memahami makna hari suci keagamaan dalam konteks kekinian.

Ketut Swabawa

Menurut Ketut Swabawa, seorang praktisi dan akademisi perhotelan menyampaikan bahwa gaya hidup manusia saat ini tidak bisa dilepaskan oleh kemajuan perkembangan teknologi. Ia menjelaskan bahwa modernitas gaya hidup justru jangan sampai mengacaukan pemahaman akan tradisi ritual keagamaan. “Cukuplah kita jangan membahas hal yang telah berubah dan bahkan kita sendiri telah menjalankan perubahan itu sendiri. Semua berproses dan terkait keyakinan kita memiliki esensi yang mendalam sejak manusia dilahirkan. Karena setiap orang memiliki keyakinan, dan di Bali kita mengenal yang namanya Desa-Kala-Patra, yaitu pertimbangan tempat, waktu dan situasi / kondisi. Sebagai seorang praktisi atau profesional dan bukan seorang ahli agama, saya tertarik membahas Tumpek Landep di era revolusi industri 4.0 ini dan juga dikaitkan dengan situasi terkini dimana kita semuanya telah melalui masa pandemi COVID-19 dan sedang menuju era adaptasi kehidupan baru di semua dimensi. Dengan kemajuan teknologi, jangan sampai makna hari raya diperdebatkan tanpa dasar pengetahuan yang matang, apalagi di ranah media sosial dimana orang bebas berpendapat. Saya cenderung menghimbau sebaiknya gunakan nalar dan intelektualitas jika ingin membahas suatu hal yang telah menjadi warisan dari para leluhur kita. Pelajari dan caritahu dari sumber-sumber resmi dengan memanfaatkan teknologi, gunakan logika untuk menelaah dan sandingkan dengan perkembangan jaman. Kan tidak ada yang sempurna, dan manusia bahkan cenderung tidak pernah berpuas diri. Senantiasa mencoba hal baru. Bagi saya Tumpek Landep adalah media refleksi diri untuk mensyukuri anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau dipuja sebagai Ida Sang Hyang Pasopati, dengan mengasah dan melatih diri terus dari ilmu pengetahuan yang telah kita peroleh dan pelajari hingga mencapai kesejahteraan” kata Swabawa yang juga Direktur Swaha Hospitality Bali ini.

Menguatkan pernyataan Swabawa, I Made Ramia Adnyana, Wakil Ketua  Umum DPP IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association) menyampaikan, ” Fakta yang kita hadapi selama ini dan kedepannya bahwa ilmu pengetahuan dan keahlian seseorang sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan di alam semesta ini. Jangankan pada bidang pekerjaan, pada kehidupan pribadi pun kita sekarang ini dituntut untuk “mencari tahu” dan mesti ahli beberapa hal. Membuat bangunan yang praktis dari baja ringan, memilih belanja secara online yang lebih praktis, memanfaatkan teknologi informasi dalam berkomunikasi jarak jauh , atau hal sederhana saja : menanam pohon di halaman rumah yang sempit agar lingkungan tetap sejuk, segar dan nyaman. Semua itu butuh pengetahuan yang belum tentu harus didapatkan dalam pendidikan formal, dengan diberitahu oleh teman pun atau dari acara TV maka kita sudah mendapatkan pengetahuan. Ini kan hanya karena pendapat yang liar di media sosial maka seolah-olah hanya apa yang mereka sampaikan dianggap pembenaran.”

I Made Ramia Adnyana

Memang selama ini kita lihat terjadi banyak opini yang beredar terkait bagaimana memaknai hari suci Tumpek Landep ini. Jika kita mampu mencermati, sebenarnya moment revolusi industri 4.0 dan masa pandemi COVID-19 ini cukup bagus untuk menganalisa dan melatih logika kita untuk memahami hal tersebut. Lebih lanjut Ramia Adnyana yang juga President Director H Hotels and Resorts ini juga mengungkapkan bahwa secara esensi Tumpek Landep merupakan wujud persembahan kepada Ida Sang Hyang Pasupati sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa ketika Beliau memberikan restu dan anugerah penguatan atas segala ilmu pengetahuan yang Beliau telah turunkan di dunia ini pada 14 hari sebelumnya, yakni pada hari suci Saraswati. Selama waktu tersebut, manusia mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dalam kesehatan (banyu pinaruh), aktifitas ekonomi seperti berniaga (coma ribek) serta mengelola pendapatan dari aktifitas ekonomi tersebut (sabuh mas). Ramia Adnyana mendefinisikan Pagerwesi sebagai rangkaian setelah hari-hari suci tersebut sebagai media pematangan atau “ngemagehang” (pager / pageh : mengikat, kuat) keseluruhan rangkaian anugerah dari Sang Pencipta sebagai bentuk syukur kepada Ida Sang Hyang Pramesti Guru. “Setelah itu, hari ini kita merayakan hari suci Tumpek Landep, saatnya merayakan “kelulusan” atas pencapaian ilmu pengetahuan dan manusia dihimbau untuk menjaga dan meningkatkannya. Proses peningkatan (improvisasi) melalui penajaman (ngelandepang) ilmu pengetahuan, daya pikir serta hal-hal yang mendukung upaya manusia menuju kesejahteraan.” kata pria asal Karangasem yang juga Ketua Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) wilayah Bali ini.

Lain lagi halnya komentar dari Ketua DPD IHGMA Bali, I Nyoman Astama, yang memberikan gambaran siklus perayaan Tumpek Landep sebagai suatu media transformasi peradaban manusia. ” Ketika manusia mulai terbuka wawasannya tentang teknologi mekanis, maka hasil cipta karsa manusia seperti kendaraan dipandang sebagai suatu pencapaian, sehingga disyukuri dengan menghaturkan yadnya sesuai kemampuan. Berbeda sebelumnya ketika manusia baru berhasil membuat alat dan senjata tajam, saat itu baru alat seperti itu yang disyukuri sebagai bentuk penciptaan oleh manusia sebagai upaya untuk mendukung kesejahteraannya, seperti pisau untuk memotong bahan makanan atau alat untuk membuat kerajinan yang akhirnya bisa dijual sehingga memiliki pendapatan untuk kehidupan keluarganya. Jadi saya melihat bahwa umat Hindu memiliki kebanggaan atas karya cipta yang dihasilkan dari pengetahuan yang dimiliki dan mengungkapkan kebanggaannya tersebut dengan bersyukur yang biasanya dalam keyakinan kita di Hindu disebut ber-yadnya melalui ritual bebantenan” kata Astama ketika dihubungi via telepon siang tadi. Pria yang menjabat The Founder and  Managing Director NUSA Hospitality ini membahas Tumpek Landep secara makro yang menyatakan bahwa dibalik semua itu , di era sekarang ini adalah mungkin sebuah momen dimana kita disadarkan pada kenyataan bahwa semua itu berawal dari pengetahuan dan keahlian manusia didorong oleh niat dan kemampuan untuk menerapkannya menjadi sebuah cipta – rasa – karsa .

I Nyoman Astama

“Manusia itu memiliki bayu – sabda – idep, dengan kemajuan jaman seperti sekarang, mari kita fokuskan rasa syukur kita pada ketajaman pikiran agar senantiasa dapat berbuat positif seperti di antaranya : 1). Mencari solusi dalam setiap masalah (misal seperti COVID-19 ini) ; 2). Melakukan inovasi yang kreatif (bersifat agility di era revolusi industri 4.0 ; 3). Menciptakan kehidupan yang harmonis sesuai konsep Tri Hita Karana : parhyangan, pawongan, palemahan (demi keberlangsungan alam semesta beserta segala isinya); dan karya cipta lainnya baik berupa pemikiran dan tindakan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan menurut pandangan saya dalam menyikapi fenomena saat ini sebaiknya kita tidak perlu mempermasalahkan hal yang belum tentu kita sudah pahami. Tetapi bersyukurlah akan apa yang telah diperoleh serta berbuatlah sesuatu demi masa depan yang lebih baik.” pungkas Astama yang dalam waktu dekat bulan depan ini akan bertolak menuju Ukraina dalam rangka penunjukkannya sebagai Konsul  Kehormatan Republik Ukrania untuk Indonesia di Bali sekaligus tentunya mempromosikan pariwisata Bali di negara tersebut yang tingkat kunjungan warganya semakin naik belakangan ini ke pulau dewata.

Memang sebaiknya kita semua harus lebih bijak memaknai tradisi yang telah diwarsikan oleh para leluhur kita. Khususnya terkait perkembangan jaman yang penuh dinamika di segala dimensi, hendaknya warisan budaya leluhur dapat dijadikan sebagai motivasi bagaimana peradaban itu selalu berubah namun budaya itu tetap ada dan semakin bisa dilestarikan oleh para generasi penerus. (RED/BI)

 

Komentar

News Feed