oleh

Opening Hita Coffee Gelar Musik Kreatif SOB

Bali Inspirasi.14/11/2020.Denpasar-Bali.Hita Coffee dalam rangka opening kali ini menggelar perayaan dengan visi kreativitas anak muda.Robert,selaku manager menyampaikan”owner yang berlatar belakang tehnik sipil dengan waktu yang singkat telah membangun tempat Hita Coffee.Berkonsep Hita Karana yakni komunikasi antara manusia,semesta,dan Tuhan.Hal ini yang menciptakan sebuah visi akan kreatifitas anak muda sekarang,kopi yang disajikan pun juga demikian yakni kopi dari flores dan kintamani bali.

 

Dengan cita rasa kopi yang fruty dan soft mampu menciptakan sebuah rasa yang digemari anak muda,juga penggemar kopi tentunya.
Signature nantinya kita persiapkan juga,sesuatu yang memiliki karakter tersendiri.”

Bazar berbagai kreatifitas seperti kaset musik lama,pernak pernik dan lain nya, musik pun digelar dengan berbagai genre,beberapa diantara nya;

Soul Of Break Sessions X Hita Coffee
“CREATIVE PEOPLE” SKS Salam Kompak Selalu
SOB Sessions adalah sebuah jasa Event Organizer, biasanya menyelenggarakan event – event yang bertema kreatif khususnya Musik. Kali ini SOB Sessions akan menyelenggarakan event yang bertajuk “Creative People “Salam Kompak Selalu” ”. Lewat tema ini kami ingin menyampaikan pesan bahwa menjadi pelaku di industri kreatif harus selalu bisa bersama-sama untuk saling mendukung untuk memajukan industri ini.
Acara ini dimaksudkan untuk menjadi wadah bagi para generasi milenial untuk melakukan hal-hal yang positif. Melalui acara ini, harapan kami kedepannya adalah generasi milenial mempunyai sarana untuk mengembangkan potensi mereka dengan kegiatan yang bermanfaat.
SOB Sessions adalah penggagas terciptanya acara yang akan diadakan di Hita Coffee Jalan Sutomo no.64. Event ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 14 November 2020. Event ini akan menampilkan 4 Band dan Live Painting, Line up Band yaitu Frando Hutabarat, Nonekos, The Munchies dan Jascha Ririrhena. Adapun band –band yang ada diatas merupakan pelaku musik yang ada di Bali, mereka bergerak secara independent dan memproduksi karya –karya mereka sendiri tanpa dibantu oleh label tertentu.
Bagi kami mendukung hal positif untuk kalangan anak muda adalah kebanggaan tersendiri. Kami dapat memberikan ruang bagi mereka agar dapat terus melakukan hal yang positif sekaligus menjadi contoh positif bagi anak muda jaman sekarang. Kami SOB Sessions mengundang para teman media untuk ikut mengambil bagian dalam acara kami. Bersama dengan rekan media kami ingin tujuan kami mengadakan acara ini bisa diketahui oleh masyarakat luas dan bisa ikut berpartisipasi didalamnya.

Frando Hutabarat adalah musisi asal Sumatra Utara, Medan yang sekarang menetap tinggal di Denpasar Bali. “JANGAN BERHENTI” adalah singgle pertama dari Frando Hutabarat yang di rilis pada 24 April 2020. “JANGAN BERHENTI” menceritakan tentang seseorang untuk tetap berjuang untuk menggapai apa yang dia inginkan. Kebanyakan dari kita berhenti dan patah semangat saat menggapai yang kita inginkan dan lagu ini hadir untuk membuat semangat baru.
Lagu ini di dikerjakan dengan beberapa musisi di bali seperti :

MOONGLADE

Bulan Juli 2019 menjadi langkah awal Moonglade menapaki belantika musik tanah air. Band yang belum genap berumur setahun ini telah merilis album mini atau Extended Play (EP) perdananya berjudul “Vol.1;Aku”. Album tersebut dirilis secara fisik dan digital di berbagai platform musik berbayar. Meski tergolong pendatang baru, deretan lagu Moonglade seolah mampu menghipnotis para pendengarnya.
Racikan musik yang fresh diimbangi karakter vokal khas biduanita, Angela Jaury membuat sajian karya cipta Moonglade terbilang unik. “Kami ingin menawarkan sesuatu yang baru dan unik ke pendengar khususnya publik di Bali dan Indonesia pada umumnya. Kami ingin menawarkan musik yang fresh berkarakter, tanpa mengekor band-band yang sudah ada,” ucap sang frontman, Kevin Suwandhi.
Secara tematik, Angela menyambung, dari enam track (satu bonus track) yang ada di album mini itu kesemuanya saling terkait dan menjadi satu rangkaian cerita.Kisah percintaan menjadi highlight di setiap lagu Moonglade.
“Semua lagu berkaitan. Seperti bercerita. Semua judul lagu diambil dari satu kata, ketika digabung semuanya jadi satu kalimat,” jelasnya. Judul “Vol.1;Aku” kata Angela menggambarkan sisi kehidupan percintaan seorang cewek. Diawali track berjudul “1000” yang menceritakan pertemuan si cewek dengan pacarnya di sekolah. “Mereka jadian. Tapi di lagu kedua berjudul Jarak ketika lulus sekolah, keduanya menjalani long distance relationship (LDR),” tutur Angela. “Lagu Berharap menceritakan saat mereka tidak kuat menjalani hubungan jarak jauh dan memilih mengakhiri. Mereka putusan. Lagu Memiliki saat si cewek naksir lagi dengan cowok. Jadi ceritanya si cowok sudah move on,” imbuh Angela. “Lagu bonus track hanya instrumen. Instrumen musik yang mengiringi saat menuju jenjang pernikahan,” lanjut Kevin. Akhir kisah cinta dua insan berlabuh pada lagu “Hadirmu”.
Moonglade membiarkan pendengar menyimpulkan musik apa yang mereka mainkan.
“Secara genre, kami belum bisa menyimpulkan. Kami mengalir, membawa musik kami ke mana arahnya. Secara latar belakang saya lebih banyak main musik jazz,” ungkap Kevin.
Ingin keluar dari zona nyaman, Kevin mencoba mengeksplorasi musik lainnya. Ia mencoba memasukkan ragam unsur, meramu jazz dan pop, dan balad.
“Lumayan capek main musik jazz. Kemudian aku research musik apa yang lagi digemari. Yang jelas aku tidak mau main musik yang terlalu pop. Akhirnya aku buat lagu yang menurutku masih enak dimainkan. Itu berdasarkan research yang aku lakukan. Dari lagu-lagu yang aku buat banyak terinspirasi dari penyanyi seperti macam Monita Talahea, Danilla,” jelasnya.
“Tapi biar pendengar yang mengkategorikan musik kami. Yang jelas kami suka dan menikmati saat memainkannya,” sambung Kevin.
Meski terbilang band baru, para awak Moonglade kerap tampil di berbagai festival musik besar di Indonesia, terutama Kevin. Namun saat membangun band ini, mereka bertiga pun mulai belajar dari nol. Belajar menghargai proses.
Pun ketiganya datang dari latar kesukaan musik yang berbeda.

NONEKOS

Sebuah single terbaru dari grup band pendatang baru asal Bali Timur, tepatnya kota Amlapura berjudul ‘Dua Negara’ akhirnya dirilis.
Single ‘Dua Negara’ sejatinya telah dirilis di Youtube sejak 25 Juli 2020 lalu dan merupakan single ke-10.
Terciptanya lagu ‘Dua Negara’ bermula pada masa pandemi covid19, saat Fahd (vokalis) menemukan inspirasi serta nada nyanyian yang bisa dijadikan materi lagu baru Nonekos.
“Karena sedang dalam masa pandemi, proses rekaman lagu ini pun dilakukan secara terpisah oleh para personil Nonekos. Butuh sekitar 3 minggu untuk menyelesaikan proses mixing dan mastering lagu Dua Negara yang bergenre Alternative Rock dengan nuansa Retro,” sambungnya.
Setelah merasa puas dengan hasil lagunya, band yang digawangi oleh Fahd (vokal gitar), Amri (lead gitar, back vokal), Norman (bass), Ilham (drum), sepakat untuk melanjutkan ke proses pembuatan video klip.
Pada tanggal 11 Juli 2020, Nonekos melakukan syuting video klip lagu Dua Negara yang dilakukan hanya berempat saja dan juga dibantu oleh Dayat yang merupakan manager Nonekos.
“Video ini berkolaborasi dengan teman-teman Nonekos yang berada di luar Indonesia. Seperti di Belanda, Finlandia, Swiss, Irlandia, Perancis, Australia, New Zealand, Timor Leste, Jepang, India, South Africa dan Ghana,” tambahnya.
Menceritakan dan menggambarkan situasi orang-orang dalam masa pandemi Covid- 19 yang sedang melepas rindu dengan kerabatnya melalui telepon.
Situasi yang benar-benar dirasakan semua orang di belahan dunia manapun.
Proses editing video dilakukan oleh Amri yang juga merupakan gitaris Nonekos, dan pada 25 Juli 2020 video ini dirilis pertama kali di kanal youtube Nonekos.
Nonekos merupakan gabungan dari 2 grup asal Amlapura, yaitu Ba5ic (funk) dan KabarBaik (rock n roll).
Diawali dengan bergabung bersama untuk mengisi live music di cafe-cafe kawasan pariwisata Bali Timur seperti Padang Bai, Candidasa, dan Amed.
Maka pada tahun 2014 terbentuklah Nonekos, atas dasar kecocokan dan kesepakatan para personel untuk memulai suatu band dengan genre yang berbeda dari sebelumnya.

Jascha Ririhena

Jascha Ririhena was born in Ambon city on 14th november 2000 but was raised in Bali. Growing up, he was listening to a lot of american pop/Rnb artist such as Stevie Wonder, Michael Jackson and Bruno Mars, and Jascha was influenced by those artist and start learning how to sing at the age of 8. Started uploading covers to Instagram on 2013 and had a pleasant reactions from listeners, the singer decided to start his music career by doing gigs on some local venue with the help of his friend now his manager Hara in 2017. Jascha released his first debut single “Butterfly” on March 2020, and it received a lot of positive feedbacks and gained some audienced for himself.

THE MUNCHIES

An alternative group that leave the crowd always wanting more, The Munchies first joined together in October 2016 in Bali.
Aweng and Joe both from Sumatra decided to form together due to not only their close friendship but the love for music they both have. Joe’s rustic voice twined with Aweng’s pure talent on the banjo form complete unity and The Munchies have become extremely successful and well known throughout Indonesia.

The munchies released their latest single ‘strong like a lion’ in January 2019 which has become a huge hit around the country, not only due to the powerful and meaningful lyrics but also the beautiful melody that is played by both Joe and Aweng.

The munchies are definitely a band that will leave you in complete awe of their music so make sure you watch out for them in places such as Oldmans, cashew tree, Xbar, Airside and many other venues.bali inspirasi

Komentar

News Feed