oleh

OTENTISITAS MENJADI IKON PARIWISATA BALI ERA BARU

Sebatu – Gianyar (01/09)

Dalam sebuah webinar yang diselenggarakan pada Senin, 31 Agustus 2020 dengan tema Paradigma Pariwisata Bali di Era Baru muncul sebuah pernyataan yang disampaikan oleh narasumber salah satu tokoh pariwisata nasional, Prof. I Gde Pitana bahwa authenticity and uniqueness adalah bagian dari konsep menuju quality tourism. Hal ini tentunya tidak dapat dipungkiri mengingat pariwisata Bali yang berlandaskan pariwisata budaya memang tengah dihadapkan pada situasi dimana artificial material mulai dapat diterima oleh masyarakat.

Ramia Adnyana, Astama, Swabawa (berdiri) dan IB Giri Supriyatna (duduk)

Arsitek senior dari Bali, Ir. Ida Bagus Giri Supriyatna menjelaskan dari perspektif property khususnya conventional property seperti hotel, villa, resort, restoran , tempat rekreasi dan lainnya memang sebaiknya menghadirkan konsep arsitektur Bali dalam tampilan bangunan utama atau berdasar prioritas. “Bali ini kan kaya akan ide – ide yang kreatif. Kebosanan pada model ukiran yang klasik bisa dikreasikan kembali menjadi design ukiran baru yang tetap mengadopsi gaya atau ciri khas yang ada di Bali. Demikian juga penggunaan bahan alam seperti batu paras, kebosanan pada bentuk dan ukurannya yang besar-besar bisa dimodifikasi menjadi ukuran lebih kecil bahkan tidak custom alias random atau acak. Sama halnya dengan bangunan modern sekalipun yang masih dalam industri pariwisata masih banyak yang mengadopsi budaya arsitektur Bali ke dalam konsep kontemporer, misanya dengan memasukkan bahan kayu yang diekspos, batu alam pada dinding yang kontras dengan permukaan cat dan sebagainya. Konsep otentiknya harus tetap ada, jka tidak tamu akan merasa seperti bukan di Bali ya” kata pria yang akrab disapa Gus Giri ini.

Swabawa di depan mock up villa

Ditanya tentang resort yang tengah dibangunnya di kawasan Tegal Suci Desa Sebatu Gianyar, Gus Giri menyampaikan telah menuju pada konsep tersebut yakni pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. “Arsitekturnya semi kontemporer dan kami ekspos angkul-angkul model Bali dengan bahan batu paras besar sehingga kesan desa dan alaminya tetap muncul. Nanti di depan semua angkul-angkul akan ada penjor yang akan terpasang sepanjang masa, jadi kami perbaharui secara berkala. Penjor adalah simbol hari raya di Bali, jadi kami ingin memberi kesan bahwa hari raya is a festival, setiap saat terasa di Stanagiri ini. Saat ini sudah setahun kami menunjuk GM sejak porperty ini siap menuju pre opening yakni Pak Swabawa yang telah malang melintang dalam dunia perhotelan khususnya luxury boutique resort. Jadi apa yang diharapkan oleh para owner di sini diharapkan bisa diterjemahkan oleh GM yang memang paham tentang produk dan bisnis seperti ini” ungkapnya sambil menunjukkan penjor yang terpasang di depan kamar mock up villa.

Ketut Swabawa, CHA menambahkan bahwa Stanagiri Luxury Retreat mulai dibangun sejak awal 2018 dan ketika itu konsepnya berupa beberapa unit villa pribadi, seiring bertambahnya peminat untuk melakukan invetasi dengan membeli unit villa akhirnya total manjadi 26 unit pada pertengahan 2019 dan sejak saat itu konsorsium owner berpikir bahwa resort harus dikelola oleh orang yang berpengalaman di properti boutique resort serta area Ubud. “Jadi selain kami dari PT Stana Giri Manajemen yang mengelola dan mengoperasikan resort ini, konsorsium juga menunjuk kami untuk mengkoordinasikan kinerja projek dan persiapan menuju pre opening. namun sayang sekali akibat pandemi, akhirnya grand opening yang awalnya direncanakan 20 Agustus 2020 harus ditunda hingga Februari 2021 mendatang” kata GM yang banyak terlibat dalam berbagai pelatihan SDM serta aktif di beberapa asosiasi kepariwisataan termasuk sebagai wakil ketua DPD IHGMA Bali periode 2016 – 2020 ini.

Semoga Bali di era baru semakin maju pariwisatanya dengan kehadiran produk-produk baru yang mengedepankan otentisitas dan keunikan budaya Bali sebagai daya tarik utama bagi wisatawan datang ke pulau dewata.

(red.RUD/BI)

Komentar

News Feed