oleh

“Pay Now, Stay Later” Kiat Industri Pariwisata Hadapi Pandemi Covid-19

Perekonomian Bali yang mengandalkan sektor pariwisata sangat terpukul akibat merebaknya wabah COVID 19. Sektor pariwisata yang paling hancur akibat wabah tersebut, karena himbauan “stay at home” tentu akomodasi wisata dan pasar oleh-oleh menjadi sepi. Lantas bagaimana kiat kalangan industri pariwisata Bali agar bisa bertahan menghadapi hantaman COVID 19? Manajemen hotel menerapkan strategi penjualan “Pay Now, Stay later”, dan usaha lain menerapkan kiat berbeda.

Pusat Unggulan Pariwisata Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Unud menggelar Webinar bertajuk “Survival Strategy Pelaku Pariwisata Bali Dalam Mengadapi Krisis Pandemi Covid-19”. Webinar diikuti 158 peserta dari seluruh Indonesia diselenggarakan pada 20 Mei 2020 mulai pukul 16.00 – 17.30 Wita menghadirkan I Made Ramia Adnyana, SE, MM, CHA (GM H Sovereign Bal), Gusti Ngurah Anom alias Ajik Cok Krisna (Owner Krisna Holding Company) dan Komang Artana, S.Pd (GM X2 Bali Breakers Resort). Webinar ini dipandu Ketua PUPAR LPPM Unud Dr. Agung Suryawan Wiranatha.

Agung Suryawan menjelaskan pariwisata Bali sangat terpukul akibat pandemic COVID-19. Mengutif Data Bank Indonesia, Agung Suryawan mengatakan secara resmi 289 hotel di Bali sudah ditutup. “Pekerja pariwisata saat ini harus tinggal dirumah baik itu karena dirumahkan, cuti tanpa tanggungan atau pemutusan kerja,” ungkapnya penuh keprihatinan. Ditambahkan, pengusaha yang bergerak disektor pariwisata menghadapi situasi sulit karena biaya operasional yang tinggi sementara pemasukan tidak ada.

Kandidat Doktor Pariwisata I Made Ramia Adnyana mengakui fakta yang disampaikan Agung Suryawan. “Kami sudah tidak memiliki cashflow lagi, agar pengusaha pariwisata bisa bertahan pemerintah harus hadir membantu dunia usaha di sektor pariwisata,” tegas Ramia Adnyana penuh harap. Dijelaskan pihak hotel menghadapi masalah berat harus mengeluarkan dan

Dijelaskan pihak hotel menghadapi masalah berat harus mengeluarkan dana operasional dengan proporsi sekitar 40-45% untuk menggaji karyawan, dan 10% untuk membayar rekening listrik PLN.

Souverign Hotel, lanjutnya, harus merogoh kocek untuk rekening listrik antara Rp200 – 260 juta per bulan. Pihaknya mencoba melakukan negosiasi agar mendapat penundaan atau keringanan ternyata hasilnya nihil. PLN, katanya, mengalami kesulitan keuangan juga sehingga tidak bisa mengabulkan keinginan pengusaha pariwisata. “Kami mendesak segera mengeluarkan kebijakan memberikan bailout kepada pengusaha pariwisata seperti yang dilakukan pemerintah Jerman,” ucap Ramia Adnyana.

“Kami mendesak segera mengeluarkan kebijakan memberikan bailout kepada pengusaha pariwisata seperti yang dilakukan pemerintah Jerman,” ucap Ramia Adnyana.

Ramia menambahkan pihaknya menjual voucher kepada calon wisatawan dengan system bayar sekarang, menginap belakangan (tahun 2021). Promosi yang bertajuk “Pay Now, Stay Later” ini cukup sukses memberikan pemasukan sehingga operasional hotel yang dipimpinnya masih bisa berjalan. Promosi tersebut disebarkan kepada 3.000 agen pemasaran yang selama ini diajak kerja sama, hingga akhir April 2020 sudah terjual 1.700 voucher dari target 7000 voucher. Kesuksesan H Sovereign Bali diikuti sejumlah hotel di Bali dan di Surabaya, Jawa Timur.

Komang Artana menyatakan promosi “Pay Now, Stay Later” juga akan diadopsi sebagai strategis penjualan kamar X2 Bali Breakers Resort. Ditegaskan pihaknya punya strategi lain untuk menjaga keberlangsungan usahanya. Dijelaskan, resort dengan luas areal sekitar 40 are di Kawasan Balangan, Jimbaran itu memang banyak lahan yang masih kosong. “Kami mengajak karyawan untuk bertani, menanami lahan yang kosong di sekitar resort, menanam berbagai komoditas pertanian seperti kacang, jagung, ketela pohon dan sereh. Di samping budidaya secara konvensional juga hidroponik,”

“Kami mengajak karyawan untuk bertani, menanami lahan yang kosong di sekitar resort, menanam berbagai komoditas pertanian seperti kacang, jagung, ketela pohon dan sereh. Di samping budidaya secara konvensional juga hidroponik,” papar Komang Artana.

Dijelaskan, kendati tidak mendapatkan penghasilan dalam bentuk uang, pihak management resort akan membagi hasil pertanian untuk karyawan. Hal ini melengkapi kegiatan yang selama ini dilakukan setiap tanggal 10, Bali Breakers Resort membagikan beras, mie instan dan telor. Ditambahkan, saat ini gaji karyawan hanya dibayar 25% saja dari yang seharusnya diterima karyawan, karyawan hanya bekerja 5 hari dalam sebulan, mereka dibagi per kelompok untuk hadir secara bergiliran sesuai jadwal yang ditetapkan untuk merawat property hotelnya.

Ditambahkan, saat ini gaji karyawan hanya dibayar 25% saja dari yang seharusnya diterima karyawan, karyawan hanya bekerja 5 hari dalam sebulan, mereka dibagi per kelompok untuk hadir secara bergiliran sesuai jadwal yang ditetapkan untuk merawat property hotelnya.

Ajik Cok Krisna menjelaskan kegiatan bertani memiliki peran ganda di masa pandemic COVIID-19. Selain menghilangkan kejenuhan karena harus tinggal di rumah saja, bertani juga menjadi investasi menjanjikan untuk membuka peluang usaha baru jika situasi kepariwisataan Bali normal kembali. Cok Krisna telah menanam 2000 ubi kayu, 260 pisang, dan 7 Ha kacang tanah. “Kalau kacang tanah panen, kami akan buat kacang kapri yang dijual di outlet-outlet Krisna, dan lain-lain,” katanya.

Ajik Krisna juga menjelaskan pihaknya selama pandemic sudah mengalokasikan CSR dengan membuat APD dan masker yang disumbangkan kepada masyarakat. Agung Suryawan menyambut baik prakarsa yang membangkitkan sektor pertanian, sehingga kinerja sektor pertanian semakin baik. Dosen FTP Unud ini berharap pengusaha dan masyarakat Bali untuk memberi perhatian yang seimbang antara sektor pertanian dan pariwisata.

Salah seorang peserta webinar PUPAR LPPM UNUD, Prof. Tajudding Bantacut dari Prodi Teknologi Industri Pertanian IPB menyatakan merasa bahagia para pengusaha pariwisata Bali menemukan cara bertahan yang rasional dan logis. “Survive is difficult, your way outs bring a little new hope(s) for tourism,” ucap ahli energi terbarukan itu mengapresiasi langkah-langkah pengusaha pariwisata bertahan di era pandemic. Alumni S3 Regional Planning, The University of Queendland Australia ini menyatakan akan menghubungi I Made Ramia Adnyana untuk membeli voucher “Pay Now, Stay Later” karena dia mengaku sangat rindu untuk berkunjung ke Bali (Ram/BI)

Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed