oleh

REAKTIVASI USAHA PARIWISATA? INI STRATEGI YANG DITAWARKAN.

Renon, Denpasar (13/8/2020)

Pariwisata adalah hal yang tidak pernah habis untuk dibahas. Bukan saja karena sektor ini menawarkan hal-hal yang menyenangkan semata. Namun karena industri ini memang ‘fragile’ alias rentan berbagai isu baik positive maupun negative. Contoh isu positif adalah ketika film Eat Pray Love diproduksi dan melibatkan destinasi Ubud, Bali, dampaknya sangat luar biasa dalam mengangkat popularitas dan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali. Sebaliknya, ketika ada isu negatif seperti sampah, macet, termasuk pandemi COVID-19 ini semua terkena dampaknya. Apalagi COVID-19 merupakan wabah kesejagatan dan tidak ada yang mampu menghindarinya.

Ketika dijumpai dalam kegiatan webinar di kantor pusat Bank BPD Bali Renon, Denpasar siang tadi, Dr.(C) I Made Ramia Adnyana, SE.,MM.,CHA dan Ketut Swabawa, CHA – dua tokoh muda pariwisata Bali ini memberikan pandangannya terhadap kesiapan Bali khususnya Kabupaten Karangasem di bidang pariwisata ke depannya di era adaptasi kebiasaan baru ini.

Ramia menyampaikan ada hal yang sangat serius untuk diperhatikan dalam kepariwisataan terkait destinasinya. Bali ini tidak boleh sampai lepas atau mengurangi konten budaya dalam pengelolaannya. “Pariwisata Budaya untuk Bali sudah harga mati. Bali tanpa budaya tidak akan mampu meraih kemenangan dalam persaingan destinasi. Jujur saja, faktor alam memang sangat indah di Bali ini namun siapa yang bisa kontrol secara konsisten bahwa contohnya jalur hijau tidak akan ada bangunan ? Pandemi COVID-19 ini harus kita paksa semua pihak untuk menyadari akan hal itu, jika memang mau serius ingin menggarap quality tourism maka sekarang lah saat yang paling tepat.” kata Wakil Ketua Umum DPP IHGMA ini.

Lebih rinci terkait topik webinar yang dipandunya tadi, Ramia sebagai putra daerah Karangasem melihat masih banyak yang belum tergarap dengan baik di sana. Bahkan disebutnya potensi yang terunik dan luar biasa sebagai anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu yang tercantum dalam tagline Karangasem (the spirit of Bali) belum menunjukkan identitas yang jelas dan marketable. “Kita belum melihat adanya indikasi nyata dan mampu menjadi predikat yang hanya dimiliki Karangasem sendiri. Seharusnya berdasar kondisi geographis, demographis dan psikografis wilayah disana maka konsep wisata spritual harus diterapkan dengan program dan konsep yang solid. Jangan terpecah konsentrasinya. Memang potensi Karangasem banyak sekali ragamnya, tapi harus ada skala prioritas. Mana yang jadi program utama, pendukung dan juga tambahan. Jika semua digarap namun secara parsial tidak utuh ya hasilnya akan sangat lama untuk bisa dinikmati” katanya.

Yang dimaksudnya sebagai bentuk konsep spiritual tourism adalah bagaimana mengangkat potensi yang ada dan dikemas menjadi suatu program yang terintegrasi. Spiritual bukan hanya bermakna sembahyang semata, namun konsep ketenangan dan kenyamanan dengan nuansa aura taksu lingkungan di destinasi. Selain itu, spiritual juga dapat dengan mempelajari atau menyaksikan proses ritual keagamaan yang dijalankan masyarakat. “Kita punya upacara ngusaba dengan berbagai jenis upacaranya dan terjadi di beberapa desa. Jadi hal seperti ini dibuatkan story telling-nya, Sehingga bisa menjadi magnet membuat orang untuk ingin datang. Jadi soft marketing seperti ini akan memiliki kesan berkelas dan elegance di mata international market” ungkap president director H Hotels and Resorts ini.

Ketut Swabawa memaparkan dari sisi kemasan produk dan cara memasarkannya. Dijelaskannya bahwa Karangasem diibaratkannya seperti destinasi dunia layaknya Bhutan yang wisatawannya harus antre dan melakukan reservasi kamar jauh hari sebelumnya bahkan berbulan-bulan. Sementara di Philipina ada pulau Isle de gigantes yang jarak tempuhnya 2,5-3 jam dengan boat dari kota Illoilo selalu diminati oleh wisatawan petualang dunia. Dari segi kemasanĀ  Karangasem masih berkutat pada prinsip ‘kami punya banyak potensi’ bukan pada prinsip ‘inilah keunikan kami yang tidak dimiliki destinasi lainnya’.

“Saya pribadi setuju memang susah mengemas produk seperti itu, tapi kan prosesnya bisa dirancang dengan matang. Maka prioritasnya bisa menjadi lebih jelas. Apalagi terkait isu CHSE standar, berbicara tentang disinfektan, masker dan cuci tangan saja belum cukup sebagai promosi upaya stakeholder dan pemerintah. Safety nya mesti diperluas penerapannya pada quality assurance, bahwa destinasi tersebut low risk COVID-19. Khusus Karangasem, secara geographis yang kaya akan sinar matahari, wilayah kelautan dan juga pegunungan seharusnya memang low risk ya. Namun minggu lalu kan masuk daftar 10 besar zona merah nasional itu, baru tadi kami mendengar katanya per 9 Agustus sudah berubah jadi zona orange. Seharusnya zona hijau lho dari sejak lama, nah ini masalahnya dimana ? Jika dijawab alasannya adalah kesadaran masyarakat; ya harus dicek kembali, mengapa mereka kurang sadar akan hal itu dan bagaimana sistem kelola informasi selama ini? ” kata Swabawa yang dalam webinar membawakan materi Strategi Reaktivasi Usaha Pariwisata Area Bali Timur dan memaparkan konsep TripleX (experience, exucution, expectation) serta 4E (entity, elaborate, experiential, existency) dalam menyiasati pembukaan usaha pariwisata di era tatanan adaptasi kebiasaan baru.

Lebih lanjut Swabawa mengingatkan kembali apa yang pernah dibawakannya pada seminar tahun lalu di Karangasem dengan tema Capturing Millenial Market for Rural Tourism Destination. Bahwa destinasi itu perlu dipromosikan secara massive secara digital, yang mana saat ini diperhatikan Karangasem hanya baru menggarapnya dalam bentuk video dan flyer di media sosial. “Di era revolusi industri saat ini kita mengenal yang namanya teknologi aplikasi augmented reality. Saatnya Karangasem dengan potensi yang dimilikinya namun selalu dikeluhkan oleh praktisinya sendiri sebagai destinasi yang jauh dari Kuta atau aiport ini, menggarap yang namanya virtual tour. Berikan pengalaman itu di dunia maya, apalagi kondisi seperti sekarang karena pandemi COVID-19. Bentuk opini mereka, gairahkan hasrat mereka untuk segera datang ke Karangasem jika saatnya telah tepat. ” kata pria yang juga dosen dan professional trainer ini.

Webinar serangkaian memeriahkan suasana bulan Agustus menyambut HUT RI ke-75 ini mengambil tema Semangat Merah Putih ; Strategi Reaktivasi Usaha Pariwisata di Area Bali Timur Pasca Pandemi COVID-19 diawali dengan sambutan Plt. Kadisparda Karangasem, Ketua BPPD/PHRI BPC Karangasem serta Direktur Utama Bank BPD Bali. (red.sb/BI)

Komentar

News Feed