oleh

REFLEKSI TILEM SASIH SADHA : Aktualisasi Ajaran Tri Hita Karana di Masa Pandemi COVID-19

Pembahasan terkait Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dapat diamati dari berbagai perspektif atau dimensi yang sebagian besar telah mengalami proses transformasi seiring era perubahan yang tidak terbendung. Wacana yang mengacu pada era tatanan kehidupan baru atau dikenal sebagai new normal era telah disubstansikan ke hal yang lebih spesifik dan tidak terbatas pada tata kelola bisnis semata, namun juga termasuk pada kehidupan sehari-hari masyarakat.

Saya tertarik untuk mencoba mengulas suatu hal yang menjadi salah satu kearifan lokal kita di Bali, yaitu ajaran Tri Hita Karana (THK) yang mengandung petunjuk bagaimana untuk membangun hubungan yang harmonis kehidupan di dunia. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa ketiga ajaran tersebut memberikan pedoman secara holistik terciptanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan sang pencipta (parhyangan), manusia dengan manusia (pawongan) serta manusia dengan alam (palemahan).  Kita harus jujur menyampaikan bahwa upaya para pelaku usaha ke arah penerapan THK yang berjalan selama ini masih didominasi dengan alasan untuk sebuah pencapaian predikat. Entah itu pengakuan dari suatu lembaga, bahan promosi perusahaan dan sejenisnya. Namun saya tidak mengatakan itu salah, tidak sama sekali. Karena kita semua tahu bahwa kondisi saat itu yang menjadi motivasi para pelaku untuk menerapkannya. Ini berbeda dengan bagaimana penerapannya di masyarakat terutama pada desa adat yang memang di samping ajaran THK, ada perarem, awig-awig serta tradisi yang dijaga dan dilestarikan dalam kehidupan masyarakat kita.

Kita berharap penerapan ajaran THK akan benar-benar menjadi salah satu benteng utama bagi kita semua dalam rangka menyelamatkan tradisi dan budaya Bali dari kepunahan di masa mendatang. Anak cucu kita agar tetap teredukasi oleh sejarah leluhurnya bahwa Bali tanpa adat, tradisi dan budayanya tidak akan mungkin bisa sampai seperti saat ini. Dan yang mampu membuat Bali selalu unggul kedepannya sampai kapanpun juga adalah jika keunikan yang dimilikinya ini tetap bisa dijaga oleh generasi penerus. Seiring dengan strategi dalam bisnis pemasaran, Positioning – Differentiation – Branding (PDB), Bali telah memiliki posisi yang sangat kuat dengan keunikan budaya yang menjadi keunggulannya dan terkenal karena karakteristik yang dimilikinya.

Saya memberanikan diri untuk mempelajari diri lagi dalam memahami lebih dalam tentang ajaran THK ini dengan mengaitkannya pada masa pandemi saat ini. Saya sendiri memiliki keyakinan bahwa selalu ada momentum yang kuat dan tepat dalam situasi tertentu. Jika kita sering mendengar istilah mulat sarira (instropeksi diri) dari para senior dan guru kita, maka saat inilah momen yang tepat mencari pembuktian bahwa ajaran leluhur kita tidak pernah memaksakan, namun sebagai penyadaran diri akan sejarah sehingga muncul rasa kebanggaan dan semakin membulatkan tekad kita bersama untuk menjaga Bali.

  1. Parahyangan ; Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta

Masyarakat Bali terkenal sebagai individu yang religious, sekali lagi hal ini dibentuk oleh adat dan tradisi yang menjadi budaya komunitas dimana mereka tinggal dan bermasyarakat. Dengan kondisi demikian, aktifitas spiritual dalam berbagai bentuk sering kita jumpai dalam sekala besar maupun kecil, secara individu maupun berkelompok, berbiaya tinggi maupun kecil. Seperti yang kita kenal istilah nista, madya, utama. Bahkan di kelompok nista pun masih tersedia kategori nistaning nista dan seterusnya. Tidak pernah kita mendengar kata “harus” terkait biaya dalam persembahan ketika melaksanakan acara yadnya, namun dorongan tradisi yang tidak berani dilanggar membuat kita menghaturkannya secara tulus ikhlas bahkan sesidan-sidan. Namun tetaplah ada ‘biaya’ berapapun jumlahnya, dan orang Bali masih tetap melakukan hal ini di tengah masa pandemi dimana pendapatan keluarga semakin berkurang cukup banyak dan roda ekonomi sedang terpuruk. Aspek Parhyangan dalam ajaran THK ini menunjukkan bhakti sraddha umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa bukanlah berapa banyak yang dapat kita persembahkan, namun bagaimana ketulusan dan kemurnian untuk melakukan persembahan. Dengan mentaati protokol kesehatan dengan tidak berkerumun dalam keramaian serta selalu menjaga jarak, ketika melakukan persembahyangan. Bahkan lebih banyak yang melakukannya di pura / merajan masing-masing. Baik sembahyang setiap hari maupun ketika rahina suci seperti hari ini di Tilem sasih Sadha.

Saya juga harus berani menyampaikan bahwa kesadaran umat di masa pandemi dalam mendekatkan diri pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa semakin tinggi. Kita tidak melihatnya sebagai jumlah orang yang bersembahyang, namun seberapa sering orang melakukannya. Mepinunas atau nunas ica kerahayuan tidak hanya bermakna sebuah permintaan semata, namun sebagai persembahan dalam upaya menyeimbangkan alam ini. Karena kepercayaan kita adalah kehidupan di alam nyata dan di alam maya ini (sekala-niskala) benar-benar ada. Keduanya harus seimbang sebagaimana konsep rwabhinneda (dua hal yang berbeda). Virus corona ini adalah bagian dari alam maya itu sendiri, bahkan pemerintah pun sudah menghimbau masyarakatnya untuk hidup damai berdampingan dengan corona.  Kembali kepada kepercayaan kita, bahwa kita tidak pernah menyembah hal yang tidak baik, namun berupaya menempatkannya pada tempat yang tepat sehingga sebaliknya justru dapat menciptakan aura positive bagi kehidupan nyata.

  1. Pawongan ; Hubungan yang harmonis antar manusia
Gerakan Masker Bersama dalam Tema “TAT TWAM ASI”

Budaya gotong royong dan hidup saling tolong menolong yang diwariskan oleh generasi sebelum kita semakin kental dirasakan saat ini. Paling tidak pada komunitas atau tatanan masyarakat yang terorganisir baik secara resmi atau tidak. Perusahaan, kelompok warga (banjar, desa dan sebagainya), kelompok profesi (asosiasi) atau hanya kelompok sekeha demen (pergaulan) banyak kita lihat melakukan kegiatan kemanusiaan dalam bentuk pemberian bantuan bahan pangan, bantuan pelatihan dan sebagainya. Hal ini sangat kental juga kita lihat pada tatanan organisasi perusahaan, dimana dengan pendapatan yang sangat minim bahkan nihil akibat tutupnya operasional perusahaan, beberapa manajemen bahkan masih rutin memberikan bantuan sembako bagi karyawannya. Saya tidak memungkiri adanya bantuan dari pemerintah juga namun memang kenyataannya masih belum memenuhi kebutuhan warga secara menyeluruh. Sehingga misi kemanusiaan yang dilakukan oleh beberapa kelompok warga di atas dapat kita kuatkan sebagai bentuk upaya menjaga hubungan yang harmonis antar sesama manusia.

Aspek pawongan memang tidak semuanya berorientasi pada bantuan materi semata, ada juga dalam bentuk pelatihan (non materi) baik formal dalam jaringan (daring / online) maupun non formal yang bertujuan untuk :

  1. Memberikan motivasi agar seseorang tidak putus asa bahkan depresi menghadapi situasi yang sangat sulit ini.
  2. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang kondisi saat ini sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk karena ketidaksiapan pada wabah yang melanda area kesejagatan ini.
  3. Memberikan keterampilan baru dan/atau meningkatkan keterampilan yang telah dimiliki sehingga dapat melakukan hal yang menjadi peluang di masa pandemi yang mengharuskan seseorang tidak dapat melakukan kegiatan rutinitas yang menjadi profesinya.
  4. Memberikan peluang untuk mendapatkan mata pencaharian baru sesuai kebutuhan masyarakat.
  5. Dan lain-lainnya.

Perwujudan aspek Pawongan juga terdapat pada ajaran Tat Twam Asi; kamu adalah aku, aku adalah kamu. Mengandung makna saling menjaga, saling peduli dan saling merasakan satu sama lain. Himbauan protokol kesehatan selama pandemi COVID-19 ini seperti memakai masker, mencuci tangan sesering mungkin dan menjaga jarak minimal 1 meter merupakan upaya untuk saling menjaga yang menjadi kesadaran bersama. Bahkan saat ini orang yang keluar rumah tanpa memakai masker menjadi malu sendiri akibatnya. Tidak perlu harus dipaksa atau dikenakan sanksi, karena manusia sendiri akhirnya ingin menjaga dirinya yang otomatis turut serta menjaga orang lain sehingga hubungan antar manusia ini semakin harmonis.

  1. Palemahan ; Hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam

Masih sangat segar dalam ingatan kita bagaimana upaya berbagai pihak dalam penyelamatan alam ini. Contoh di Bali saja yang baru saja berlalu adalah adanya peraturan gubernur tentang pemasaran produk pertanian lokal,  pengurangan penggunaan barang berbahan plastik sekali pakai, gerakan world clean up day, gerakan penghijauan dan masih banyak yang lainnya lagi.  Alam yang tidak dapat berbicara seperti halnya manusia ini benar-benar sakit dan rusak tidak bisa menyampaikan sakitnya itu, akibat ulah manusia. Cadangan air yang semakin berkurang , bahkan sumber air bagi Pulau Bali yaitu danau Batur dan danau Buyan sebagaimana diketahui telah mengalami penurunan debit cukup parah. Semua tetap berproses, semua tetap mengupayakan yang terbaik untuk alam Bali.

Pada situasi pandemi saat ini, banyak orang yang telah memilih untuk mencoba menghidupkan kembali kegiatan pertanian dan perkebunan. Karena sektor pariwisata yang menjadi andalan utama masyarakat Bali, 85% roda ekonomi bertumpu pada pariwisata tersebut terhenti total saat ini. Masyarakat banyak yang kehilangan pendapatan yang akibatnya daya beli menjadi menurun. Mulai dari menanam sayur di pekarangan rumah termasuk juga dalam pot tanaman kecil. Bahkan yang pulang ke kampung halaman meninggalkan tempat kost atau kontrakan rumah karena tidak mampu membayar biaya sewa lagi hingga membuka lahan kosong yang dimiliki di desa dan digunakan untuk bercocok tanam. Tidak sedikit juga perusahaan seperti jasa akomodasi yang memanfaatkan kesempatan idle time ini dengan mengajak karyawannya berkebun dan saat ini kita bisa lihat beberapa dari mereka telah mampu memenuhi sebagian dari kebutuhan makanan karyawan beserta keluarganya sendiri.

Saya melihat beberapa hal aktifitas manusia yang cukup membuat alam ‘tersenyum’ sehingga dapat menciptakan hubungan yang harmonis atas kedua elemen ini, diantaranya :

  1. Gerakan bercocok tanam ini merupakan aktifitas menghidupkan kembali alam ini, memperbaiki unsur hara dan juga memperbanyak media untuk menghisap karbon dioksida dalam udara sehingga dapat membantu menciptakan udara yang bersih dan segar.
  2. Selain itu, aktifitas work from home juga berdampak pada pengurangan emisi gas buangan dan asap kendaraan, bahkan beberapa kota besar banyak mengabarkan langit tampak semakin biru dan bersih akibatnya. Alam telah memaksa kita untuk menyadari bahwa bumi ini sedang sakit dan memiliki caranya sendiri untuk kesembuhannya. Karena manusia kurang memperhatikannya, maka alam menunjukkan kuasanya sehingga manusia terpaksa melakukan hal yang dianggapnya sebagai suatu penyelamatan bagi dirinya juga.
  3. Menurunnya daya beli masyarakat dibanding masa sebelum pandemi, juga secara langsung mengurangi upaya eksplorasi terhadap alam (sumber air, sumber gas bumi untuk listrik, sumber mineral untuk produksi manufaktur dan sebagainya).

Pada akhirnya, dengan masih banyak pandangan lainnya lagi selain ulasan di atas saya yakin sekali kita sependapat bahwa ajaran leluhur kita yang telah diwariskan secara turun temurun ini memiliki nilai yang adiluhung dalam upaya untuk mencapai tatanan kehidupan yang sejahtera dan damai. Dengan perwujudan tatanan kehidupan yang harmonis dalam ajaran Tri Hita Karana, kita semua harus yakin bahwa upaya ke arah tersebut tidak bisa lagi didasari hanya karena ingin mendapatkan suatu predikat atau jalan untuk meraih kepentingan parsial semata. Melainkan sebagai jalan untuk kehidupan yang berkualitas dan berkelanjutan.

 

Renungan Rahina Suci Tilem Sasih Sadha.
Saniscara, 20 Juni 2020

(SWA/BI)

Komentar

News Feed