oleh

Revenue Restoran Sebagai Penyokong Strategis Pendapatan Hotel

K. Swabawa, CHA (Waka II DPD IHGMA Bali)

Dunia perhotelan di era digital saat ini mengalami pergeseran besar dalam strategi pengelolaannya terutama terkait revenue dan target profit yang ditentukan. Hal ini dipicu dengan kemajuan teknologi bidang informasi yang sebelumnya hanya terbatas pada koneksitas dan sekarang ini semakin agresif merambah ke software dan sistem aplikasi. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa tantangan dunia industri terdiri dari dua faktor eksternal dan internal, manajemen perhotelan juga dipandang perlu untuk menganalisa faktor internal yang memang lebih mudah untuk dikelola secara integral.

Saat dihubungi via telepon oleh  tim Bali Inspirasi, Ketut Swabawa, CHA (Wakil Ketua II DPD IHGMA Bali) menyampaikan bahwa tantangan internal yang dimaksud cukup beragam jenisnya dan hal yang menarik dibahas dan diberdayakan oleh pihak hotel adalah pada bidang strategi pendapatan (revenue) dan pengelolaan biaya (expenses dan cost). Swabawa menjelaskan “Kedua hal ini sifatnya internal dan controllable, jadi pihak manajemen dapat merubah strateginya kapan saja asalkan analisanya sudah kuat dan realistis berdasarkan business forecast dan on hand business. Contoh dalam penerapan harga kamar adalah sistem dynamic rate yang telah populer sejak beberapa tahun lalu. Ada konsep revenue management dan standard of purchase yang menggunakan pendekatan standard yaitu mengikuti kriteria yang ditentukan oleh manajemen. Dan jangan lupa bahwa revolusi industri 4.0 ini telah merubah faktor atau elemen biaya yang semakin banyak pula selain jumlah akumulasi total nominalnya tentu juga bertambah. Jadi pihak manajemen harus benar-benar cerdas untuk mentransformasikan strategi dan kreatifitas nya berorientasi pada revenue dan profit tanpa meninggalkan kualitas dan kepuasan pelanggan”.

Ditanyakan tentang strategi lainnya dalam pencapaian target revenue selain dari main source of revenue yaitu room, Swabawa dengan cepat menjawab bahwa divisi restoran adalah area yang perlu digarap dengan lebih serius untuk mengelaborasi semua potensi yang dimiliki. “Restoran itu adalah produk yang paling aggressive menurut saya sebagai penyumbang revenue. Dibandingkan dengan room yang hanya bisa dijual sekali dalam sehari artinya carrying capacity nya sudah dipastikan dengan angka hunian maksimal. Berbeda dengan restoran, satu meja dapat diisi tamu berkali-kali selama jam buka jika produk dan layanan yang ditawarkan benar-benar menjadi favorit di kawasan destinasi. Apalagi manajemen mampu mengkreasikan produk dengan cerdas seperti membuka outlet baru yang spesifik, menciptakan signature dishes yang unik, menggelar event yang berkualitas dan sebagainya.” kata Swabawa. Menurutnya, dengan pandangan demikian maka kualitas SDM pengelola restoran perlu ditingkatkan dan diberikan perhatian lebih karena potensinya yang dapat mendatangkan revenue bersifat eksponensial, sebagaimana ada beberapa hotel di Bali dimana FB revenue nya melebihi pencapaian room revenue. Untuk itu Swabawa mengapresiasi rekan-rekan yang bergerak di bidang restoran yang selalu berusaha meningkatkan skill competency-nya dengan berbagai cara seperti mengikuti pelatihan, seminar, berjejaring serta berasosiasi seperti yang sering diselenggarakan oleh rekan-rekan Indonesian Food and Beverages Executive Committee (IFBEC) Bali. “Kami selalu mendukung dan siap membantu rekan-rekan di dunia hospitality untuk maju bersama, terutama kami di IHGMA Bali yang juga asosiasi profesi perhotelan tentunya sangat ingin melihat rekan-rekan kami semuanya sukses dalam karir serta dapat berkontribusi bagi perusahaan dimana mereka bekerja dan untuk industri juga tentunya.

Menarik juga tentang bahasan pemberdayaan restoran pada bisnis hotel sebagai alternatif penyokong pendapatan hotel ini. Selain pelayanan di restoran, kebutuhan makanan dan minuman juga dibutuhkan ketika ada perhelatan atau acara khusus seperti resepsi pernikahan, pertemuan rapat, seminar, pelatihan, pameran atau kegiatan di hotel lainnya. Jadi pendapatan restoran bukan hanya terfokus pada tempat di restoran saja namun juga di setiap kegiatan yang tergolong MICE (meeting, incentive, conference, exhibition) tersebut. Melanjutkan yang terakhir ini, Swabawa memberikan tips singkat untuk meningkatkan revenue restoran “Jika restoran hanya melayani breakfast tamu menginap saja dan tidak ada revenue lainnya padahal jam buka hingga dinner atau bahkan ada potensi tamu dari luar juga seharusnya dine-in, maka cek lah kualitas breakfast dan makanan Anda! Mungkin ada yang perlu ditingkatkan. Semua orang butuh makan, mengapa mereka tidak makan di restoran kita? ” pungkasnya.

 

Komentar

News Feed